Mendulang Asa di Puncak Penanggak

"Kalau Mereka Bisa Kenapa Kita Tidak?"

Kedai Kopi Puncak Penanggak | Foto Lalu Ridho Arindi

Lombok Timur, BerbagiNews.com – Ahad (01/01)-“Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?” ungkap Muhajar menceritakan pengalamannya tatkala melihat ekpose ekowisata di media sosial 2017 silam. Ia adalah satu di antara sekian pemuda yang berperan aktif membangun desanya.

Ungkapannya tidaklah berlebihan, sebab daya dukung alam di Desa Pringgajurang Utara yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sangat memadai. Topografi alamnya berupa pesawahan dan bukit-bukit kecil, serta sungai yang berkelok-kelok membelah wilayah Desa Pringgajurang Utara menjadi beberapa potongan bak mozaik, juga ditunjang hawanya yang sejuk khas pegunungan.

“Pemuda di sini, rata-rata lepas SMA pergi merantau ke luar daerah dan ke luar negeri, saya ingin mereka bisa bekerja dan membangun kampung mereka sendiri,” tutur Muhajar, keperihatinan inilah yang menguatkan tekadnya.

Perlu waktu satu tahun untuk mewujudkan idenya itu. Barulah pada bulan akhir bulan November, Muhajar bersama pemuda setempat bahu-membahu menyulap sebidang tanah lapang di tepi jurang di Dusun Penanggak, Desa Pringgajurang Utara menjadi tempat tongkrongan bernuansa alam terbuka yang menarik. Tidak mudah baginya membangun tempat itu, adanya pandangan pesimis sebagian masyarakat juga keterbatasan dana jadi kendala.

Seolah tak mau kalah akal, mereka berupaya memanfaatkan bahan baku yang ada. Bambu dan kayu yang dikumpulkan secara swadaya, dijadikan konstruksi dasar membuat kedai mini dan lengkap dengan perabotnya, hingga jadilah tongkrongan yang benar-benar alami di ketinggian.

Tempat ini dinamakan Wisata Alam Puncak Penanggak, “Puncak Penanggak, letaknya di ketinggian, dan Penanggak dari bahasa Sasak, artinya tempat melihat, karena di sini jika menghadap utara dan timur akan terlihat bentangan sawah, rimbunnya hutan dan kawasan pegunungan Rinjani ke arah selatan dan barat, pesawahan dan perkampungan kecil penduduk pedesaan,” aku Jen, rekan Muhajar.

Baca Juga :  Pokmas Asoka Ombe Baru Meniti Harapan Baru

Di sini disediakan kopi khas Lombok, hasil perkebunan kopi masyarakat Desa Pringgajurang Utara. Cukup Rp.3000, pengunjung sudah bisa menyeruput secangkir kopi hitam, juga  mendapatkan spot swafoto gratis, dengan latar Gunung Sangkareang dan Gunung Rinjani di sisi utara, atau hijaunya hamparan pesawahan berundak mengelilingi tempat ini, seperti Ubud di Pulau Bali.

Tak hanya tempat tongkrongan, pengunjung juga bisa melakukan hiking melintasi pematang, sungai dan tepi hutan di kawasan ini, yang tentunya sangat baik untuk menyegarkan pikiran di akhir pekan.

Untuk menuju tempat ini, sekitar 3 menit dari objek wisata Otak Kokoq Joben menyusuri jalan aspal, lokasinya persis di pinggir jalan. Atau bisa juga lewat perempatan Desa Pringgajurang ke arah utara via Perempatan jalan negara Pasar Paok Motong.

Mewakili pemuda, Muhajar mengutarakan harapannya keberadaan tempat ini bisa memberi dampak yang positif bagi masyarakatnya. “Harapan kami, ingin melihat di kawasan ini berdiri kedai-kedai kecil yang menjajakan hasil pertanian dan perkebunan masyarakat kami, sayuran, buah-buahan dan kerajinan sehingga mendongkrak perekonomian masyarakat,” harapnya.

Melalui Berbagi News, dirinya menyampaikan pesannya agar diberi perhatian lebih oleh pemerintah desa maupun pemerintah Daerah. “Semoga pemerintah desa maupun instansi terkait meberikan perhatian lebih atas apa yang telah kami upayakan” pintanya. (ridho/BBN)