Universitas Samawa dan Tangan Berbagi Indonesia Memprakarsai Penelitian Kebudayaan

Mataram, BerbagiNews.com – Minggu (21/04/2019) Universitas Samawa (UNSA) bersama rombongan melakukan Penelitan Kebudayaan di Lombok.

Lokasi pertama adalah di Desa Sukarara yang berada sekitar 25 km atau 30 menit perjalanan dari Kota Mataram. Di desa Sukarara rombongan di ajak ke salah satu toko yakni Toko Patuh yang menjual kain tenun dengan motif dan harga yang beragam. Di depan toko para rombongan Universitas Samawa (UNSA) bisa melihat proses pembuatan kain tenun.

Para ibu ibu Rombongan Penelitian Kebudayaan mencoba menenun yang masih menggunakan alat trandisonal, yang berada di Desa Sukarara Lombok Tengah-NTB.

“Para wanita menenun dari pagi hingga sore, bahkan malam-malam juga ada. Satu rumah punya satu alat tenun di halaman depannya,”Ucap Salah satu Karyawan toko.

Untuk soal
harga, kain tenun di Desa Sukarara dipatok mulai dari kisaran Rp 150 ribu
hingga jutaan rupiah. Meski cukup menguras kantong, rupanya kain tenun di Desa
Sukarara berkualitas karena semuanya masih dilakukan secara manual dan tidak
menggunakan mesin sama sekali.

“Membuat satu kain tenun, dibutuhkan waktu satu minggu
hingga berbulan-bulan,” Tambah salah seorang Karyawan Toko.

Selepas dari Desa Sukarara Rombongan UNSA yang di bersamai oleh Tangan Berbagi melanjutkan perjalanan ke Dusun Sade, yakni sekitar 30 menit perjalanan dari Desa Sukarara.

Dusun Sade
adalah Kampung Asli Adat
Suku Sasak Lombok, merupakan desa wisata sejarah yang memiliki
karakteristik khusus yang layak untuk menjadi tujuan wisata sejarah. Di kawasan
ini, penduduknya masih memiliki tradisi yang relatif masih asli atau
tradisional, yang ditandai dengan bentuk permukiman dengan deretan rumah yang
bercorak hampir sama, sistem kekerabatan yang masih kental, serta masih
membentuk adat tersendiri. Sehingga, dibandingkan dengan dusun-dusun yang ada
di dalam wilayah Desa Rembitan, Sade merupakan salah satu dusun tradisional
yang masih Rumah-rumah penduduk dibangun dengan konstruksi bamboo dengan
atap dari daun alang-alang yang mampu bertahan hingga 7 tahun bila mengikatnya
benar.

Baca Juga :  Wisata Sesaot, nikmati Keasriannya dan Sate Bulayak

Penghuninya
berpencaharian sebagai petani ladang karena tanah di daerah ini pada musim
kemarau mengalami kekeringan.

Jumlah
mereka relatif tidak bertambah karena keluarga yang baru menikah kalau tidak
mewarisi rumah orang tuanya akan membangun rumah di tempat lain.

Di samping arsitektur rumah, sistem sosial dan kehidupan keseharian mereka masih sangat kental dengan tradisi masyarakat Sasak tempo doeloe.

Foto Bersama Rombongan di Dusun Sade, Kampung Adat Sasak (Dekan Fakultas Hukum, Dr. Lahmuddin Zuhri)

Dr.
Syafruddin, SE selaku Rektor  Universitas
Samawa (UNSA) mengemukan rasa syukur kepada Allah atas nikmat bahwasanya Tangan
Berbagi Indonesia bisa membersamai kami, kegiatan study Tour tentang penelitian
kebudayaan ini juga didukung oleh Perum Damri untuk melakukan kajian kebudayaan
di wilayah Lombok yakni di Dusun Sade dan Desa Sukarara.

“Alhamdulillah
kita sudah nyampe tujuan dan saya berterima kasih bahwa pelayanan dan kerjasama
dari Tangan Berbagi Indonesia, saya nggak ada mantap luar biasa banget bikin
kita gembira senang walaupun capek capek hilang rasa capeknya. Terima kasih
atas pelayanannya ” ungkap Dr Syaf sapaan akrab Rektor UNSA

Bersama rombongan kajian kebudayaan ini juga di
ikuti oleh bapak ibu dosen UNSA, salah satunya adalah Ustadz Drs Syaihcu Rauf,
yang juga sebagi ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Kabupaten Sumbawa,
memberi respon positif dan mengapresiasi kegiatan ini “saya kira memang
salah satu hal yang penting dari kehidupan manusia itu adalah melakukan
perjalanan atau sekarang sering disebut dengan tour itu kan sesungguhnya
bagaimana seseorang bisa menikmati alam ciptaan Allah sehingga bisa mengambil
pelajaran dari apa yang Allah berikan kepada manusia, nah dalam konteks ini apa
yang dilakukan oleh temen temen Tangan Berbagi Indonesia dan Damri,  merupakan salah satu solusi juga bagi upaya
bagaimana kita bisa menikmati alam kemudian di sisi lain saya melihat dengan
perjalanan yang saya rasakan kali ini ada sesuatu kegembiraan yang memberikan
kesan indah dalam bingkai rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat alam dan
budaya di NTB khususnya pulau lombok” ungkap Ustadz Ehu.

Baca Juga :  Rio Wibawanto: Tips Mendaki Gunung Rinjani dari Jalur Sembalun Lombok Timur

Ustadz Ehu sapaan akrab Drs Syaichu Rauf, mengajak temen temen yang lain untuk mencoba belajar dan minikmati keindahan lombok baik keindahan alam maupun keunggulan budayanya, sebagai salah satu bagian dari warisan nasional, ustadz Ehu juga mengajak masyarakat untuk  merawat dan melestarikan alam dan budaya dan nilai yang ada sebagai nikmat Allah SWT yang sangat berharga. Dan diharapkan kedepannya Tangan Berbagi dan UNSA dapat bersinergi dalam penguatan nilai budaya masyarakat NTB, “pungkasnya.

Oleh Tim Tangan Berbagi Indonesia mengajak Rombongan UNSA mengunjungi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang berada di Kuta Lombok Tengah. Rombongan mencoba juga menyusuri jalur sirkuit menggunakan Bus Damri untuk arena Balap Moto GP yang rencananya diadakan tahun 2021 nanti, dan pertama kalinya Indonesia akan menjadi tuan rumah ajang kejuraan Dunia bergengsi ini yang di gelar di Lombok Kuta Mandalika. (Redaksi/BBN)