Lurah Rakam, Tak Harus Menunggu Perang Tuk Jadi Pahlawan

BerbagiNews.com – Saban hari, sejak tanggal satu, terlihat orang-orang sibuk di jalanan. Memasang beragam hiasan dan dekorasi, gang-gang, pohon-pohon dilapisi cat-cat, ditambah jargon-jargon kemerdekaan, kata-kata heroik, jadilah kampung-kampung nuansa merah putih.

Tujuannya untuk mengenang semangat perjuangan para pahlawan. Ketika mendengar kata “Pahlawan”, ku tangkap persepsi di sebagian orang adalah berkaitan dengan perang, perebutan kekuasaan dari tangan tirani.

“Pahlawan” kata ini telah lama mengalami spesialisasi, atau penyempitan makna, hanya dikaitkan dengan pra dan pertahanan kemerdekaan, sehingga penghargaan hanya terbatas untuk mereka saja.

Di hari ini, ada banyak orang yang berbuat untuk orang banyak. Cobalah sesekali tengok orang-orang yang saban pagi, berjibaku dengan tumpukan-tumpukan sampah di pinggir jalan, mereka kumpulkan, mereka angkat, tak peduli itu barang yang paling menjijikkan sekalipun bagi orang lain. Entah sampahnya buangan siapa, mereka tak pernah bertanya tentang itu.

Mereka yang berbaju kuning-kuning itu, pagi-pagi, mungkin juga terlewat sarapan paginya. Sedangkan kebanyakan kita hanya bisa berkomentar, “tumpukkan sampah, kumuh, jorok.” Ketika sampah-sampah itu belum diangkut oleh mobil kuning.

Yang patut kita pertanyakan adalah tentang diri kita, “Sudahkah kita bisa menjadi pahlawan untuk diri dan orang lain?” Termasuk bagi mereka.

Setidaknya, sebelum sampah-sampah itu ditaruh di pinggir jalanan, karungkanlah dulu, atau bungkus, biar tak berserakan. Dan itu bisa lebih meringankan pekerjaan mereka. Jadi tak perlu menunggu perang tuk jadi pahlawan.

Rakam, ketika Agustus mulai bersemi. (Ridho/BBN)