Al Washliyah Pertama Kalinya Rayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, ini Tempatnya

Catatan46 Dilihat

BERBAGI News – Menurut Dr. Chalidjah Hasanuddin dalam bukunya yang berjudul Al-Jam’iyatul Washliyah Api Dalam Sekam, hal: 69-71 (1988), mengatakan bahwa, “Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw, secara modern diselenggarakan oleh Al Jam’iyatul Washliyah untuk pertama kalinya adalah bertempat di- Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) Medan pada tahun 1933.”

Perayaan Maulid ini dilaksanakan oleh guru-guru MIT yang juga angggota Al-Jam’iyatul Washliyah. Pada kesempatan ini acara diisi dengan pidato mengenai riwayat Nabi Muhammad Saw yang dipaparkan oleh Syehk Muhammad Yunus, guru kepala MIT, dan ‘Adurrahaman Syihab, ketua Al-Jam’iyatul Washliyah, diikuti oleh pembicara lain dengan topik yang sama.

Syehk Muhammad Yunus sebagai salah salah seorang tokoh ulama tradisional mengikuti cara baru itu yang diprakarsai oleh bekas murid-muridnya. Dengan cara seperti ini terjadi arus yang berlawanan dalam proses sosialisasi. Biasanya dalam proses sosialisasi, nilai budaya dari guru-guru beralih kepada murid, tetapi disini tejadi hal yang sebaliknya, yaitu dari murid kepada guru.

Oleh sabab itu dapat dikatakan, bahwa lembaga-lembaga tradisional dapat menerima inovasi, sekurang-kurangnya di MIT, di mana murid-murid berperan sebagai guru bantu yang membuka pintu isolasi. Jadi perubahan diterima tanpa sengaja.

Baca Juga:  Muktamar XXIII dan Khittah Al Washliyah

A. Wahab, ketua Al-Jam’iyatul Washliyah cabang Medan, sebagai salah seorang pelaksana Maulid di MIT dengan bangga menunjukkan keberhasilan organisasi ini. Ia menulis dalam surat kabar Sinar Deli 1933, antara lain sebagai berikut:

” … perayaan ini lebih menarik perhatian karena Mauloed biasanya dengan barzandji tidak dapat dipahami, sebab dalam bahasa Arab. Sekarang djaman beroebah, haroes ada poela peroebahan asal tidak bertentangan dengan Sjari’at Islam,”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa Al-Jam’iyatul Washliyah cenderung mengikuti perayaan Maulid bercorak modern dengan menyampaikan riwayat hidup Nabi dengan bahasa yang dipahami oleh pendengar sehingga isi pembicaraan memberikan manfaat bagi mereka.

Setahun kemudian (1934), Al-Jam’iyatul Washliyah memasukkan pula unsur lain dalam perayaan Maulid dengan mengadakan pawai yang diikuti oleh 100 orang murid-murid. Kemudian pada tahun 1935, Al-Jam’yatul Washliyah mengadakan pawai yang sama pada waktu perayaan Maulid diadakan di Medan. dengan diikuti oleh cabang-cabang di Belawan Deli, Pematang Siantar, Simalungun, Aek Kanopan dan Kwaluh, bahkan ada pula perayaan di lapangan terbuka.

Baca Juga:  Filosofi Logo Kementerian Kesehatan

Nampaknya arus kemajuan tidak terbendung oleh organisasi ini, dan pawai juga berjalan pada perayaan Maulid, juga pada perayaan hari raya Idul Adha dan Idul Fitri yang diikuti cabang-cabang Al-Jam’iyatul Washliyah di daerah.

Walaupun cara-cara tersebut terbatas di kota-kota kecil di daerah, tidak mustahil kebisaan baru ini membawa perubahan pada sikap masyarakat di dusun, karena mereka selalu berduyun-berduyun datang ke kota untuk turut serta memeriahkan perayaan hari-hari besar Islam itu.

Sungguhpun begitu Al-Jam’iyatul Washliyah belum meninggalkan kebiasaan golongan tradisional yaitu mengadakan perayaan Maulid dengan barzanji dan marhaban. Menurut mazhab Syafi’i pembacaan ini sunnat.

Oleh sebab itu pula Al-Jam’iyatul Washliyah dapat memenuhi keinginan masyarakat setempat. Bagi masyarakat yang belum dapat menerima cara modern dengan pidato dan pawai, model tradisional tetap dipakai di beberapa cabang, umpamanya di Serbelawan.

Baca Juga:  Jiwa Kepahlawanan

Disini Al-Jam’iyatul Washliyah memakai cara lama, karena organisasi ini kurang disegani oleh guru-guru tarekat, yang dianggap sebagai saingan dalam menyebaran pengaruh. Di samping itu Al-Jam’iyatul Washliyah tidak mengembangkan tasawuf, karena ajaran ini dapat mempersempit pemikiran dan memperkecil ruang gerak mereka.

Dalam rangka memeperluas geraknya Al-Jam’iyatul Washliyah juga berusaha mengadakan hubungan erat dengan Sultan sebagai penguasa daerah Sumatera Timur. Pembinaan keakraban antara lain dilakukan dengan mengikuti tradisi Sultan, yaitu mengadakan perayaan Maulid dengan membaca barzanji.

Sultan tidaklah begitu ketat memegang tradisi agama, tapi ingin tetap mengikuti tradisi yang telah berjalan sesuai dengan mazhab Syafi’i. Oleh sebab barzanji dianggap sunnat, bukan bid’ah, maka Al-Jam’iyatul Washliyah dapat menyesuaikan dengan keadaan setempat.[]

Sumber: Dikutip dari Buku Al-Jam’iyatul Wahliyah Api Dalam Sekam, Dr. Chalidjah Hasanuddin, hal: 69-71, Pustaka Bandung, 1409H-1988M.

ASWAN NASUTION, Mataram-Lombok Barat-Nusa Tenggara Barat (NTB)

banner 336x280