ABDULLAH Bin MAS’UD berkata: “Suatu ketika aku datang mengunjungi Rasulullah SAW. ketika itu beliau baru saja bangun dari tidurnya, di pipi Nabi SAW. masih tampak bekas himpitan tikar, maka aku berkata kepadanya: Ya Rasulullah, bagaimana jika aku memberikan baginda kasur untuk terhindar dari himpatan yang tidak sedap dipandang itu?
Rasulullah SAW menjawab: “Apa artinya aku didunia ini, aku dan dunia bagaikan seorang musafir yang berteduh di bawah pohon melepaskan lelah kemudian pergi meninggalkanya untuk selamanya”.
Rasulullah SAW. juga sering berdo’a: “Ya Allah jadikanlah rizki keluarga Muhammad sekedar memenuhi kebutuhannya.”
Bukhari meriwayatkan dari Aisyah Ra. berkata kepada Urwah: Wahai anak saudaraku, andaikan kita melihat bulan sabit tiga kali dalam dua bulan, dan tidak ada nyala api di rumah Rasulullah SAW. yaitu tidak ada makanan yang akan dimasak.
Urwah bertanya: Wahai bibiku, bagaimana dengan kelangsungan hidupmu? Aisyah berkata: Aku hidup hanya dengah kurma dan air, akan tetapi Rasulullah SAW. bertetangga dengan golongan Anshar, mereka memiliki kambing perahan dan memberikan air susunya kepada Rasulullah SAW. dan kami meminumnya.
Pada riwayat lain, Ibnu Jarir dari Aisyah Ra. pernah berkata: Rasulullah SAW. tidak makan roti gandum selama tiga hari berturut-turut sejak beliau datang dari Madinah sampai beliau kembali lagi.
Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas Ra. dia berkata: Fatimah memberikan kepada Nabi SAW. sekerat roti gandum, kemudian Nabi SAW. berkata kepada putrinya: “Ini adalah makanan pertama yang ayah makan sejak tiga hari ini”.
Dari riwayat-riwayat di atas terlihat dengan jelas, menjadikan sifat zuhud yang tinggi, inilah yang mendorong Rasulullah SAW. untuk melaksanakan segala perintah Allah Swt. karena janji Allah Swt. yang beliau yakini, seperti dalam firman-Nya:
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan kekal”. [QS.Thoha: 131].
Sifat zuhud dan kesederhanaan Rasulullah SAW, bukan berarti hendak melepaskan diri dari keluarga dan kesenangan hidup dunia yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya, karena Nabi SAW, juga telah melarang yang anti kemewahan hidup. [tidak berlebihan].
Dan yang perlu direnungi, sifat Rasulullah SAW. yang demikian itu bukan karena beliau fakir, bakhil, dan tak punya makanan sama sekali. Seandainya Rasulullah SAW. menginginkan hidup mewah yang bergelimpangan harta kekayaan dan bersenang-senang dengan bunga kehidupan dunia, niscaya dengan patuh serta taat dunia ini akan tunduk dihadapannya.
Akan tetapi bukanlah kemewahan hidup dunia yang beliau kehendaki. Dibalik sifat zuhud Rasulullah SAW, banyak tersimpan nilai-nilai pendidikan dan pengajaran yang ingin beliau tanamkan kepada umatnya, antara lain:
1. Ingin menanamkan dan mengajarkan kepada Ummat Islam tentang arti cinta dan pengorbanan serta kemuliaan.
Hal ini terlihat dalam riwayat Al-Baihaqi dari Aisyah Ra, yang berkata: “Rasulullah SAW, tidak makan selama tiga hari berturut-turut, andaikata kami menghendaki itu niscaya kami makan, akan tetapi beliau lebih senang memuliakan hatinya.
2. Rasulullah ingin mendidik Umat Islam agar biasa hidup sederhana dan qanaah, karena beliau khawatir Ummat Islam dihinggapi penyakit rakus terhadap kesenangan kehidupan dunia yang bisa melupakan jewajiban dakwah dan jihad, dan mereka mabuk melihat harta yang bergelimpangan sehingga lupa serta lengah terhadap kewajiban menegakkan kalimat Allah.
Rasulullah SAW, juga khawatir jika dunia ini terbentang dihadapan mereka dan menjadikan mereka binasa seperti yang telah terjadi pada ummat-ummat sebelum mereka.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Abu Ubaidah Ra. ketika datang dari Bahrain dengan membawa harta benda yang banyak, setelah mengerjakan shalat Subuh, orang-orang Anshar menyambut kedatangannya.
Melihat mereka itu Rasulullah SAW, tersenyum kemudian beliau berkata:
“Saya mengira kamu sekalian keluar dari tempat ini, karena mendengar Abu Ubaidah datang dengan membawa banyak oleh-oleh.”
Mereka menjawab: benar ya Rasulullah. Kemudian, Rasulullah SAW, berkata: ” Bergembiralah dan carilah sesuatu yang dapat menggairahkan kamu, tetapi demi Allah, bukanlah kemiskinan dan kefakiran yang aku khawatirkan, tetapi yang aku khawatirkan jika dunia ini membentangkan segalanya dihadapanmu seperti yang dialami generasi sebelum kamu, kemudian kamu berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan seperti mereka juga mencarinya, kemudian binasa karena hartamu seperti yang pernah menimpa mereka”.
3. Ingin menampakkan kepada musuh-musuh Islam kalau beliau berdakwah dan mengajarkan agama Islam kepada manusia bukan karena menaruh keinginan untuk menumpuk-numpuk harta kekayaan dan kesenangan, kemewahan dan bukan pula memburu dunia dengan nama agama.
Akan tetapi Nabi SAW, hanya semata-mata mengharapkan ridha Allah, dan hanya mengharapkan pertemuan dengan Allah, beliau tidak menyimpan satu hartapun kecuali makanan yang cukup untuk dimakan malam harinya dan pakaian yang dapat menutup auratnya. Dan apa yang ada dalam rumah Nabi SAW, hanyalah barang shadaqah yang juga akan diberikan kepada fakir dan miskin.
Begitulah sifat dan sikap Rasululullah SAW, dan Nabi-Nabi sebelumnya, seperti Allah firmankan:
“Dan dia berkata: Wahai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepadamu sebagai upah bagi seruanku, upahku hanyalah dari Allah, dan aku sekali-kali tidak mengusir orang-orang yang telah beriman”. [QS. Huud: 29]. Wallahu a’lam bish showab.
Sumber: Skj. 175.96′
















