“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah: 154).
AL-JAM’IYATUL WASHLIYAH (AL-WASHLIYAH), sebagai salah satu organisasi Islam ke tiga terbesar di Indonesia, tidak hanya di kenal sebagai pelopor dalam bidang pendidikan, dakwah dan sosial keagamaan, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Tokoh-tokoh Al-Jam’iyatul Washliyah dengan keteladanan, integritas, dan komitmen terhadap nilai-nilai keislaman serta nasionalisme menjadi bagian penting dari sejarah bangsa dan Negara Republik Indonesia.
Dasar itu demikian kuatnya, sehingga itu sebabnya ketika awal Proklamasi, PB. Al-Jam’iyatul Washliyah mengatakan kepada Pemerintah Pusat di Jakarta dan kepada Gubernur Sumatera Mr. T. Hassan di Medan, dan kawatnya tanggal 9 September 1945 yang berbunyi: “Al-Jam’iyatul Washliyah turut mempertahankan Republik Indonesia”.
ANDIL AL-WASHLIYAH DALAM KEMERDEKAAN RI
Dari catatan sejarah kita mengetahui bahwa ulama, tokoh dan pejuang Al-Washliyah amatlah besar memberikan andil dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia ini. Kemerdekaan negara kita ini bukanlah merupakan hadiah pemberian bangsa asing: kemerdekaan negara kita adalah ditebus oleh para pahlawan bangsa yang juga para ulama dan tokoh Al-Washliyah telah mengambil peran dalam memperjuangan kemerdekan Republik Indonesia.
LANDASAN PERJUANGAN ULAMA AL-WASHLIYAH DALAM KEMERDEKAAN RI
Pada dasarnya landasan perjuangan ulama, tokoh dan pejuang Al-Jam’iyatul Washliyah pada masa lalu itu adalah membenci kezhaliman dan keangkamurkaan yang telah diperbuat oleh penjajah, maka para ulama, tokoh dan pejuang Al-Washliyah itu menyadari bahwa kezhaliman dan penindasan tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Allah SWT yang tertuang dalam syariat Islam.
Ulama dan pejuang Al-Jam’iyatul Washliyah itu, secara fisik memang mereka sudah tiada , namun secara spiritual mereka adalah masih hadir di tengah-tengah kita. Dalam kaitan ini patut kiranya kita merenungkan sejenak firman Allah SWT berikut ini: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati: bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. (QS. Al-Baqarah: 154).
FATWA ULAMA AL-WASHLIYAH DALAM JIHAD FI SABILILAH
Selanjutnya, para Ulama Al-Washliyah telah mengeluarkan fatwa yang cukup menggencarkan pasukan pendudukan Inggris-Belanda-Nica ketika itu. Fatwa tersebut berbunyi: “Orang Islam yang mati dalam pertempuran melawan orang Belanda dan pembantu-pembantunya itu (sekutu), dan mati disebabkan oleh pertempuran itu dengan niat hendak menegakkan Islam, dihukumkan mati syahid”.
Fatwa para ulama Al-Wasjliyah yang mengatakan bahwa perang untuk mengusir penjajah adalah, “JIHAD FI SABILILLAH” mengobankan semangat tempur para pejuang ada yang gugur dan menjadi syuhada’ dalam pertempuran itu.
Namun pertempuran tersebut telah membuka mata dunia internasional bahwa bangsa Indonesia yang berdaulat masih ada dan para putra-putri Indonesia telah bertekad bulat untuk mempertahankan Kemerdekaan hingga titik darah penghabisan.
PERAN MEDIA SEBAGAI TROMPET PERJUANGAN
Melalui media “Medan Islam” dalam nomor istimewa memuat tuntunan perang sabil menurut ajaran Islam dan memuat pelajaran membaca do’a qunut dalam sembahyang untuk mendo’kan kemenangan kaum muslimin dan kehancuran musuh.
Demikian pula dari pucuk Pimpinan Pemuda diterbitkan pula satu majalah khusus untuk menggerakkan semangat pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan yang bernama, “PEDOMAN PEMUDA”. Majalah ini special mengkobar-kobarkan semangat peperangan dan pengertian yang mendalam tentang perang sabil dan mati syahid untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selain itu, pada tanggal 29 Oktober 1945 yaitu 20 hari kemudian lalu diadakan konfrensi Guru-guru serta Alim Ulama Al-Jam’iyatul Washliyah untuk membicarakan beberapa hal sebagai tindakan dan pertanggung jawab seterusnya.
Selanjutnya, pada bulan Nopember 1945 majalah Medan Islam pada bulan Nopember 1941 terhenti penerbitannya, lantas diterbitkan secara spontan sebagai trompet membela kemerdekaan dan sebagai penghubung kepada keluarga Al-Jam’iyatul Washliyah dan umumnya rakyat Indonesia di bawah pimpinan Al-Ustadz H.MOHD. ARSYAD THALIB LUBIS.
Tokoh-tokoh Al-Jam’iyatul Washliyah telah memberikan perjuangan dan kontribusi yang luar biasa dalam proses kemerdekaan Indonesia. Dengan semangat keislaman yang bersatu dengan nasionalisme, para pahlawan, tokoh dan pejuang Al-Jam’iyatul Washliyah ini, menjadi teladan dalam membangun bangsa yang bermartabat.
Warisan perjuangan para pahlawan, ulama dan tokoh tersebut, tidak hanya tertulis abadi dalam sejarah, tetapi tidak kala pentingnya juga menjadi inspirasi bagi para kader Al-Washliyah generasi penerus bangsa untuk terus berkontribusi dalam menjaga kemerdekaan, menegakkan keadilan, dan mengembangkan kehidupan berbangsa yang berkemajuan, beradab serta sejahtera di dunia-akhirat.
Nashrum minallahi wa fathun qarib wabasysyiril mukminin.
Penulis: Aswan Nasution, Alumni 79′ al-Qismul Ali Al-Washliyah-Ismailiyah-Medan. Alumni UISU Medan dan IAIN Mataram.
Referensi:
-Al-Jam’iyatul Washliyah 1/4 Abad.
-Bahrum Jamil, Ma’had Mualimin Al-Washliyah-Medan 1991.
-Dan berbagai sumber lainnya.
















