Dari Peserta Menjadi Pemimpin, Perjalanan Paridatul Ilmi Menemukan Makna Pramuka

Catatan67 Dilihat

BERBAGI News – Berawal dari sekadar mengikuti ajakan teman saat duduk di bangku sekolah dasar, Paridatul ilmi, pemudi asal Korleko, Kabupaten Lombok Timur, justru menemukan kecintaan yang tumbuh semakin kuat terhadap Gerakan Pramuka. Perjalanan yang awalnya hanya tentang mengikuti perkemahan itu perlahan membentuk keberanian, jiwa kepemimpinan, dan cara pandangnya dalam berorganisasi.

Pengalaman pertamanya mengikuti perkemahan menjadi awal perjalanan tersebut. Saat itu, Datul belum sepenuhnya memahami kegiatan yang diikutinya. Namun, semuanya berubah ketika ia mengikuti lomba Pramuka yang diselenggarakan Kwartir Ranting (Kwarran) Labuhan Haji. Suasana kegiatan yang menyatu dengan alam dan ramainya peserta meninggalkan kesan mendalam baginya.

Dari pengalaman itu, muncul keinginan untuk terus mengikuti Pramuka. Baginya, kegiatan tersebut ternyata bukan sekadar berkemah, melainkan ruang untuk belajar, bertemu banyak orang, dan mendapatkan pengalaman baru.

Memasuki bangku SMP, keterlibatannya semakin berkembang. Datul dipercaya menjadi Pradana Putri atau pemimpin Pramuka di satuan pendidikannya. Ia juga aktif mengikuti berbagai perlombaan yang diselenggarakan Kwarran Labuhan Haji. Meski tidak selalu membawa pulang juara, pengalaman dan kebersamaan selama mengikuti kegiatan menjadi hal yang tetap ia syukuri.

Pemahamannya terhadap Pramuka semakin mendalam ketika memasuki SMA. Jika sebelumnya ia menganggap Pramuka identik dengan perkemahan, pada masa ini ia mulai mengenal proses panjang di balik sebuah kegiatan, mulai dari perencanaan, persiapan, hingga pelaksanaan.

Baca Juga:  Membesarkan Al Washliyah dengan Gemar Berjamaah dan Silaturrahmi

Kepercayaan sebagai krani atau sekretaris membuatnya terbiasa mengurus administrasi dan memahami pentingnya koordinasi dalam organisasi. Pengalaman tersebut menjadi bekal yang kemudian membawanya mengambil tanggung jawab lebih besar saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Di bangku kuliah, Datul pernah menjabat sebagai anggota bidang minat dan bakat (Mikat) di Racana UIN Mataram. Salah satu program kerja yang dijalankannya adalah Pesco (Penggalang Scout Competition), kompetisi Pramuka yang menyasar peserta tingkat sekolah dasar di wilayah Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat.

Dalam kegiatan yang sukses digelar di Kampus II UIN Mataram itu, Datul dipercaya menjadi ketua panitia. Kegiatan tersebut diikuti hampir 500 peserta. Pengalaman ini menjadi salah satu perjalanan penting baginya dalam mengelola kegiatan berskala besar.

Tak berhenti di sana, Datul juga dipercaya menjadi koordinator acara dalam kegiatan Taksi (Temu Aksi Penggalang Penegak) tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 1.000 peserta Pramuka tingkat SMP dan SMA dari berbagai daerah di NTB.

Baca Juga:  Selalu Ada Tempat Buat Orang Jujur… PERCAYALAH

Kepercayaan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Datul, dari seorang peserta hingga dipercaya mengambil peran dalam penyelenggaraan kegiatan besar. Baginya, setiap tanggung jawab merupakan kesempatan untuk belajar, membangun kerja sama, dan mengembangkan kemampuan diri.

Selain aktif dalam Gerakan Pramuka, Datul juga mengikuti Saka Wira Kartika sejak SMA. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah kegiatan bela negara yang diselenggarakan oleh TNI Angkatan Darat di lingkungan Batalyon Infanteri 742/Satya Wira Yudha, Kompi C.

Dalam kegiatan tersebut, Datul merasakan secara langsung pembinaan kedisiplinan bersama prajurit TNI Angkatan Darat. Pengalaman itu memberinya gambaran mengenai kehidupan militer, khususnya tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketahanan diri.

Meski memiliki banyak pengalaman berkesan, perjalanan Datul dalam berorganisasi bukan tanpa hambatan. Permasalahan internal maupun eksternal terkadang memunculkan keinginan untuk menyerah. Namun, pesan pembinanya saat SMA terus teringat hingga sekarang.

“Pramuka itu panggilan jiwa,” demikian pesan yang selalu ia ingat.

Bagi Datul, pesan tersebut perlahan menemukan maknanya sendiri. Ia menyadari bahwa kecintaan terhadap organisasi tidak selalu diuji melalui kegiatan besar atau keberhasilan meraih prestasi, tetapi juga melalui kemampuan bertahan ketika menghadapi berbagai persoalan.

Baca Juga:  Light Up The Dream PLN UIW NTB, Cahaya Nyata Listrik untuk Rakyat

Pengalamannya selama mengikuti Pramuka turut membentuk keberanian yang sebelumnya mungkin tidak ia sadari. Ia menjadi lebih percaya diri, berani memimpin, dan mampu berbicara di hadapan banyak orang. Kemampuan tersebut menjadi bekal berharga yang tidak hanya berguna dalam organisasi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Ke depan, Datul berharap dapat terus mempertahankan dan berkontribusi bagi organisasi yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia menyadari bahwa pengalaman yang dimilikinya sejauh ini masih didominasi kegiatan di tingkat daerah.

Namun, hal itu tidak menyurutkan harapannya untuk suatu saat dapat mengikuti kegiatan Pramuka di tingkat nasional hingga internasional.

Baginya, Pramuka bukan sekadar organisasi yang diikuti sejak kecil. Lebih dari itu, Pramuka menjadi tempatnya bertumbuh, belajar menghadapi tantangan, dan menemukan keberanian untuk melangkah lebih jauh.

Perjalanan yang dimulai dari ajakan seorang teman itu kini menjadi bagian penting dalam pembentukan dirinya. Dari perkemahan pertama hingga dipercaya memimpin kegiatan dengan ratusan bahkan ribuan peserta, Datul terus belajar bahwa setiap proses memiliki arti dan setiap pengalaman dapat menjadi bekal untuk masa depan.

banner 336x280