Menelusuri Perjalanan Panjang Dakwah di Tanah Sorong Papua, Tak Pernah Lelah

Oleh: Dr.H. ABDUL MUN'IM RITONGA, SH. MH.

Religi93 Dilihat

BERBAGI News – Alhamdulillah hari ini Selasa tgl 27 Oktober 2026 jam 06.26 sd 07.04 WIT. 1 jam lebih cepat dari Jakarta. Saya AMR Sedang berada di dalam pesawat ketingian 30.000 kaki dari permukaan laut dari Jakarta menuju Makasar.

Perjalanan ini akan diteruskan dari Makassar ke Papua Transit dulu 2.5 jam di Makassar. Perjalanan ini dilakukan untuk beberapa hari, tujuan untuk berdakwah yang sudah saya dilakoni sejak umur 15 tahun (1975).

Sekarang usia saya sudah 66 tahun (1960-2026). Saya teringat kata teman mumpung Buya masih kuat, jalani saja kegemaran berdakwah ke daerah. Tidak tahu masih berapa lama lagi bisa berdakwah dengan perjuangan yang extra energi ini.

Kalau suatu ketika tidak kuat lagi, sudah tidak akan melakukan dakwah perjalanan jauh lagi. Itu mungkin terjadi tidak lama lagi. Saat itu buya lebih banyak di rumah.

Saya senang sekali berdakwah bertemu dengan jamaah yang berbeda-beda, berceramah kadang dihadiri dua tiga orang saja, kadang ramai sampai beberapa ribu orang. Umumnya dihadiri ibu-ibu.

Baca Juga:  Mendahulukan Adab daripada Ilmu

Dakwah ini luar biasa. Kadang jamaah yang dihadapi campuran dari usia yang berbeda, penghidupan berbeda, suku bangsa berbeda, tingkat ilmunya berbeda, kadar akalnya berbeda, lokasi tempat ceramahnya berbeda beda, dan suasananya juga berbeda.

Jam ceramah juga berbeda, kadang jam sulit orang lagi lapar setelah shalat zuhur baru dimulai ceramah atau setelah subuh lagi mengantuk.

Tugas penceramah tidak sekedar berceramah menggugurkan kewajiban atau tugas, juga bagaimana membuat jamaah tertarik, tidak tidur, memperhatikan dan memahami sampai terasa ada efek ceramahnya.

Ini bisa dilihat dari ada interaksi anatara penceramah dengan jamaah. Pada saat jamaah menerima ceramah, kadang mereka serius, kadang tersenyum, kadang tertawa, kadang bertepuk tangan dan semua merasa terhibur dan puas.

Terlihat setelah ceramah berakhir, mereka para jamaah menunjukkan sikap respek yang kuat, datang menyalami sambil membungkuk kan badan dengan penuh rasa hormat.

Penceramah harus punya keterampilan membuat jamaah siap menerima ceramah nya dengan gembira, tidak tertidur dan tidak ribut berbicara sesama jamaah, tapi mereka fokus semua diam dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

Baca Juga:  Keistimewaan Hari Jumat

Karena pesawat sudah mau landing. tulisan akan dilanjutkan pada perjalanan berikutnya dari Makassar menuju Papua. Wassalam
Bersambung …..

Allah Memuliakan para Pendakwah/para Ustad, Ulama, Kyai.

Lanjutan tulisan II perjalanan dakwah dari Makasar ke Sorong papua. Dibuat di udara dalam pesawai komersial, ketinggian 30.000 kaki dari permukaan laut.

Ustad yang kadang disebut Kyai, Buya, punya kedudukan yang dimuliakan Allah, Manusia juga ikut memuliakannya.

Pekerjaan para ustad berdakwah tergolong jihad fi sabilillah. Lillahi ta’ala.

Ustad dalam menjalani profesinya tidak mencari kekayaan materi, jarang ustad orang kaya, hidupnya sederhana, tapi ustad kaya Rohani, jiwanya besar dan luas. Pengaruhnya besar dan kharismatik.

Mari kita lihat antara lain;

  1. Ustad tergolong sebagai pewaris para Nabi (waratsatul anbiya’i). ia menjaga akhlaknya sebagaimana akhlak Para Nabi. Jika ustad tidak ada melakukan dakwah secara estafet, maka agama Islam yang kini sudah berjalan 15 abad sudah lama terputus.
  2. Ustad di masyarakat tergolong sebagai pemuka masyarakat yang dihormati dan dimuliakan keberadaannya.
  3. Kalau orang bersalaman selalu membungkukkan badannya dihadapan ustad, kadang mencium tangannya tanda memberi hormat dan respek kepada ustad.
  4. Orang segan tidak berani berkata-kata kasar pada ustad.
  5. Ustad selalu dijadikan penasehat diminta pandangannya tentang sesuatu masalah yang dihadapi.
  6. Kalau orang mau bertanya tentang agama baik tentang Aqidah, syariah dan akhlak. Lebih yakin bertanya kepada ustad dan mengharapkan jawabannya.
  7. Ustad selalu diminta doanya, selalu diminta membaca doa.
  8. Ustad orang kaya spiritual, accountnya tak pernah ditutup oleh Allah. meski sudah meninggal dunia. Setiap orang yang mengamalkan nasehatnya yang diajarkan yang benar, ia akan mendapat juga aliran pahala kebaikannya terus menerus.
  9. Ustad dalam urutan acara selalu disebut sebut sebagai acara yg ditunggi-tunggu.
  10. Kalau ustad tiba di suatu majlis acara, dia akan disambut dan ditempatkan ditempat utama, pulangnya juga dilepas dengan kehormatan.
  11. Banyak keberkahan yang didapatkan oleh seorang yang juga disebut Ulama, Da’i, Ustad, Kyai, Tuan Guru.
Baca Juga:  Jangan Khianati Amanat yang dipercayai

Semoga bermanfaat

” Seperti apa kau ingin dikenang”.

Wassalam.
Dr. H. Abdul Mun’im Ritonga, SH. MH.

banner 336x280