Hidup Adalah Perubahan

Oleh: Aswan Nasution

Religi199 Dilihat

” … Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri …” (QS. Ar-Ra’d: 11).

HIDUP adalah perubahan. Bahkan ada yang bilang, “Segala sesuatu mengalami perubahan kecuali perubahan itu sendiri.” Oleh karena itu, setiap orang harus berubah -tentu berubah menjadi lebih baik.

“Tidak peduli berapa jauh jalan yang salah Anda jalani, putar arah sekarang juga,” kata Rhenald Kasali dalam bukunya Change! “Kita dituntut berubah, terutama apabila kita salah jalan.”

Perubahan memang sunnatullah. Datangnya dari Allah. Dialah yang mengubah segala sesuatu. Namun, Allah tak akan mengubahnya tanpa ada andil atau peran manusia di dalamnya.

Firman Allah di dalam Al-Qur’an, “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri … (QS. Ar-Ra’d: 11).

Kita mengubah diri, lalu Allah yang menyempurnakan perubahan itu. Kita ingin mengubah nasib maka kita harus berusaha keras maka Allah pun menjadikan perbaikan nasib pada diri kita.

Ada seorang pedagang sayur berpenghasilan kecil. Wajar saja, ia selalu bangun kesiangan dan mendapati pengunjung pasar sudah pada pulang.

Jika ia ingin Allah mengubah rezekinya menjadi lebih baik maka ia harus mengubah kelemahan yang ada dalam dirinya, yaitu selalu bangun siang menjadi bangun pagi-pagi sekali.

Banyak orang ingin berubah. Ada yang sudah memaksimalkan diri dalam berubah, namun nasib belum juga berubah. ini membutuhkan kesabaran.

Dalam sebuah perjuangan perlu ‘endurance’ yang tinggi. Ketabahan menjadi modal yang tak kurang penting. Itu yang biasanya terjadi.

Ada yang tidak biasa. Yaitu orang yang tidak mau berubah, meskipun ia sangat ingin berubah atau setidaknya ia enggan berubah. Ia tidak mau melakukan perubahan karena ia terpenjara dalam dirinya.

Ia justru mengurung diri dalam penjara yang ia buat sendiri. Pada umumnya orang ingin membuang sekat-sekat dalam dirinya agar dapat bebas berekspresi, melakukan perubahan menjadi lebih baik.

Namun orang jenis ini lain, ia terpenjara dalam sel yang justru dibuatnya sendiri. Ia merasa nyaman berada di sana dan tak kemana- mana. Ia pun akhirnya sibuk dengan hal yang menjadi pembatasnya tersebut.

Ada beberapa hal yang bisa membuat orang terpenjara dalam diri sehingga tak mau berubah menuju kepada yang lebih baik.

Paling tidak ada lima hal penjara diri. Orang bisa saja tidak dapat berubah karena terpenjara oleh sukses masa lalu, kegagalan terdahulu, terlalu antusias kepada masa depan, ragu-ragu dalam melangkah, dan sombong tentang kekinian. Dua masa lalu, dua di masa depan, satu di masa kini (2:2:1).

Dua masa lalu adalah extreme to extreme, yaitu sukses dan gagal, dua masa depan juga sama, antusias dan ragu-ragu. Dan satu hal tentang masa kini. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: Menapaki Jalan Mendaki, Palgunadi T. Setyawan, 2009.

banner 336x280
Baca Juga:  Bekal Menyambut Ibadah Puasa