Tegakkan Keadilan Walaupun Langit Akan Runtuh

Oleh: Aswan Nasution

Religi253 Dilihat

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (keadilan) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8).

BETAPA besar kecintaan Nabi Muhammad Saw kepada umatnya, bahkan sampai akhir hayatnya pun masih terus mengucapkan ummati, ummati (umatku, umatku). Memang tidak dapat dipungkiri, Nabi Muhammad Saw adalah seorang yang egaliter.

Nabi Saw rela menahan lapar asalkan orang lain tidak kelaparan. Beliau rela memberikan apa yang dimilikinya kepada orang lain yang dianggap lebih membutuhkan.

Nabi Saw selalu mengatakan kepada umatnya bahwa Muslim itu bersaudara. Maka seorang muslim sejati haruslah mau tolong menolong dan saling mencintai sesama saudara. Bahkan nabi menandaskan, tidak sempurna iman seseorang apabila ia tega membiarkan tetangganya kelaparan, sementara ia nyenyak dalam tidurnya.

Dalam sejarah kehidupan Nabi banyak hikmah yang bisa diambil dan diteladani. Kecintaan Nabi kepada umatnya adalah kecintaan yang tulus dan jujur. Demikian pula dengan sahabat-sahabatnya, seperti Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib, mereka tetap mewarisi sifat luhur Nabi Saw.

Sebagai penguasa dan pemimpin umat mereka benar-benar menjalankan amanah. Sedikit pun mereka tidak mau memperkaya diri lewat kekuasaan yang diamanahkan tersebut. Sebab mereka yakin, amanah kekuasaan tersebut kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan Yang Maha Adil.

Dalam masalah penegakkan keadilan, Nabi juga memberikan teladan. Nabi tidak hanya adil dalam ucapan, namun yang lebih mengagumkan, Nabi bisa mewujudkan satu kata dengan tindakan. Nabi tidak akan membeda-bedakan seseorang dalam masalah keadilan. Sampai Nabi mengatakan, “Seandainya putriku Fatimah melakukan kesalahan, niscaya ia akan kuhukum”.

Dapat kita bayangkan betapa besar makna ucapan Nabi itu. Sebab kita mengetahui Fatimah adalah putri kesayangan Nabi. Fatimah adalah istri Ali bin Abi Tahlib, dan Fatimah adalah ibu dari Hasan dan Husein, cucu yang sangat disayangi Nabi Saw.

Namun demikian, betapapun besar kecintaan Nabi kepada Fatimah, kalau menyangkut hukum dan keadilan ia tidak membeda-bedakan manusia. Ini adalah teladan yang baik bagi segenap pemimpin yang kebetulan mendapat amanah kekuasaan dari rakyat.

Hikmah yang dapat diambil dari teladan yang ditunjukkan Nabi adalah, jangan sekali-kali keadilan dipermainkan oleh penguasa. Karena pada dasarnya, semua manusia di hadapan Tuhan adalah sama, untuk itu harus diperlakukan sama sesuai dengan hukum yang ada.

Dewasa ini, betapa suram praktik keadilan di tengah masyarakat kita. Rakyat yang lemah ketika mencuri seekor ayam begitu mudah dihukum tanpa sedikit pun pembelaan. Sementara itu, penguasa dan konglomerat yang banyak merugikan negara seolah kebal hukum, bahkan dilindungi oleh penguasa dengan berbagai retorika. Betapa banyak tindakan penguasa yang menusuk rasa keadilan rakyat.

Keadilan sebagai kata yang begitu luhur dan suci, telah ternoda oleh gemerlap harta dan kekuasaan. Keadilan seolah tertutup manakalah datang godaan yang memabukkan. Barangkali kita sudah lupa bahwa semua rekayasa yang kini dilakukan akan terbongkar nanti dihadapan Hakim Yang Maha Adil, Allah SWT.

Terakhir penulis meminjam suatu ungkapan yang mengatakan, “Tegakkan Keadilan Walaupun Langit Akan Runtuh” ini adalah terjemahan dari adagium Latin “Fiat Justitia Ruat Caelum, ” yang berarti keadilan harus ditegakkan tanpa memperdulikan konsekuensi, tekanan, atau kesulitan apa pun, menegaskan bahwa hukum harus tegak dan tak tergoyahkan sebagai fondasi negara hukum.

Prinsif ini menekankan bahwa keadilan sejati harus berdiri tegak tanpa kompromi, bahkan ketika resikonya besar.” (Google). Wallahu a’lam bish showab. Semoga bermanfaat.

Sumber: Dakwah di Tengah Persoalan dan Politik, Drs. Hamdan Daulay, M.si. 2001.

banner 336x280
Baca Juga:  Korupsi Seolah Menjadi Budaya, Apa Yang Dicari Para Koruptor?