Kembali! Makna Dakwah Dewasa Ini

Religi170 Dilihat

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS.

DAKWAH ibarat lentera kehidupan, yang memberikan cahaya dan menerangi hidup manusia dari nestapa kegelapan. Tatkala manusia dilanda kegersangan spritual, dengan rapuhnya akhlak, maraknya korupsi, kolusi, dan manipulasi, dakwah diharapkan mampu memberi cahaya terang.

Maraknya berbagai ketimpangan, kerusuhan, kecurangan, dan sederet tindakan tercela lainnya, disebabkan terkikisnya nilai-nilai agama dalam diri manusia. Tidak berlebihan jika dakwah merupakan bagian yang cukup penting bagi umat saat ini.

Namun dalam realitanya, dakwah yang hadir di tengah-tengah umat saat ini masih dominan dengan retorika. Artinya, kita belum bisa mewujudkan satunya kata dengan tindakan.

Betapa banyak orang yang begitu fasih mengucapkan kejujuran, keadilan, anti korupsi dan lain-lain, tapi dalam realitanya larut dalam ketidak jujuran, ketidak adilan dan korupsi.

Kalau demikian, maka pesan-pesan dakwah yang disampaikan pun tampaknya barulah sebatas kata-kata indah, sementara esensinya belum teraktualisasikan.

Dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah, juru dakwah (dai) yang kini banyak dari kalangan birokrat dan politisi, selalu menganjurkan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka menganjurkan pola hidup sederhana, mencanangkan pemberantasan korupsi sampai ke akar-akarnya, menyembatani kesengjangan sosial ekonomi, menghindari monopoli, menegakkan keadilan dan kebenaran, mengenyahkan kemiskinan dan lain-lain. Namun dapat dibayangkan apa reaksi dan dampaknya bagi masyarakat, jika fakta tidak sesuai dengan tindakan.

Drs. Hamdan Daulay, M.Si. dalam buku Dakwah Di Tengah Persoalan Budaya dan Politik (2001), mengatakan, “Berhasilnya suatu dakwah mencapai sasaran, apabila juru dakwah juga menjalankan moral dan etika Islam, yang ditunjukkan oleh kadar keimanan dan ketaqwaannya secara konkrit dalam kehidupan sehari-hari.”

Tiga Metode Dakwah

Mohammad Natsir dalam buku Fiqhud Dakwah (2017), mengatakan, “Bahwa ada tiga metode dakwah yang relevan disampaikan di tengah masyarakat. Yaitu dakwah bil- lisan, dakwah bil-kalam dan dakwah bil-hal.

Dalam perakteknya dewasa ini, baru dakwah bil-lisan dan bil-kalam yang sering dilakukan. Sementara dakwah bil-hal masih jauh dari harapan. Itulah sebabnya kualitas dakwah hingga hingga kini masih tetap memperhatinkan.”

Padahal kalau kita mau bercermin pada sejarah Nabi Saw, dalam teladan dakwahhya beliau senantiasa menunjukkan satunya kata dengan tindakan. Nabi Saw menunjukkan adanya kesatuan antara ucapan dengan perbuatan. Beliau tidak hanya hidup berdoa dan berkhutbah, tanpa melakukan aksi sosial kemasyarakatan.

Dari teladan dakwah yang demikian, maka sesungguhnya dakwah bukanlah sekedar retorika belaka, tetapi harus mampu menjadi teladan tindakan teladan sebagai dakwah pembangunan secara nyata.

Lebih lanjut Drs. Handan Daulay, M.Si. menagatakan, “Lembaga dakwah tak hanya berpusat di Masjid, kampus, forum diskusi, pengajian dan semacamnya. Dakwah harus mengalami desentralisasi kegiatan. Ia harus berada di bawah, di pemukiman kumuh, di pinggir kali, di pedesaan, di mana kemiskinan struktural seakan takkan dapat terlepaskan.”

Kearah sanalah tampaknya kegiatan dakwah atau ukhuwah Islamiyah harus dilangkahkan. Itu juga berarti dakwah, ukhuwah lebih direkayasa untuk menanggulangi gejala kefakiran yang membawa kekufuran pada lapisan bawah.
.
Dai Sebagai Teladan Moralitas

Umat Islam pada lapisan bawah, tak sanggup menghubungkan secara tepat isi dakwah yang sering didengar melalui dakwah bil-lisan dengan realita sulitnya kehidupan sosial ekonomi sehari-hari.

Untuk itu dai dituntut secara maksimal agar mampu melakukan dakwah bil-hal (dalam bentuk nyata). Artinya tatkala masyarakat mengharapkan keadilan dan kejujuran, maka dai diharapkan mampu memberi jalan keluar yang terbaik. Dalam hal ini, dai juga harus mampu berdakwah kepada para oknum yang sering mempermainkan keadilan dan kejujuran untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya.

Masih dalam karya Hamdan Daulay, mengatakan, “Dakwah sekarang dan di masa akan datang haruslah mencakup dakwah bil hikmatil hasanah, meskipun tidak perlu menerapkan keterampilan yang terlalu teknis. Ceramah-ceramah agama idealnya adalah ceramah-ceramah yang bertemakan kebutuhan nyata masyarakat.”

Lebih lanjut terkait tentang dakwah dia uraikan bahwa, “Konsep dakwah idealnya adalah dakwah yang tidak menyempitkan cakrawala umat dalam emosi keagamaan dan keterpencilan sosial. Dakwah yang demikian juga akan memenuhi tuntutan individual untuk saling menolong dalam berbagai kesulitan hidup sehari-hari.”

Kini setelah Islam memasuki usia 15 abad, dakwah seolah semakin redup di tengah gemerlapnya arus modernisme dan materialisme. Kegersangan spritual pun srmakin parah melanda umat manusia. Sehingga nafsu angakara murka semakin merajalela. Keberutalan, kesadisan, korupsi, kolusi dan penindasan semakin memperhatinkan.

Padahal sesungguhnya, esensi dakwah yang terkandung dalam ayat-ayat suci dan hadits-hadits Nabi tak pernah mengenal redup dan luntur. Namun karena keangkuhan dan kealfaan manusialah yang membuat ayat-ayat suci yang agung itu hanya menjadi retorika yang indah.

Penutup, untuk mewujudkan keberhasilan dakwah, pesan-pesan dakwah hendaknya harus ditransformasikan dari retorika ke realita. Dengan demikian, umat yang didakwahi pun akan merasakan makna satunya kata dengan tindakan.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 2-3).*

Sumber: Fiqhud Da’wah, M. Natsir, 2017. Dakwah di Tengah Persoalan Budaya dan Politik, Drs. Hamidan Daulay, M.Si. 2001.

banner 336x280
Baca Juga:  Menjaga Adab di Akhir Zaman