Muliakan Diri Dengan Bersyukur

Penulis: Aswan Nasution

Agama260 Dilihat

“Allahumma a’iini ‘ala dzikrika, wa syukrika, wahusni ‘ibaadatik. Wahai Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” (HR. Bukhari dan Muslim).

BERBAGI News – PUNCAK manusia yang cerdas itu selalu ingat kepada Allah dan mengaitkan setiap kejadian dengan hukum-Nya. Oleh karena itu, kita sebagai manusia sudah seharusnya dalam keadaan apa pun, mengingat Allah, dan mengaitkan segala yang terjadi di muka bumi ini dengan Penciptanya.

Setiap makhluk yang hidup senantiasa diberikan masalah oleh Allah. Karena hakikatnya Allah itu memberikan kepada kita sebagian dari kekuasaan-Nya yang disebut ya hayyu ya qayyum, Dia Yang Mahahidup dan Maha Menyelesaikan masalah.

Untuk bisa nenyelesaikan semua persoalan itu, kita diberi perangkat alat. Dan Allah berjanji, “Aku sudah menyediakan rezeki untuk semua makhluk-Ku. ” Rezeki bagi makhluk merupakan urusan Allah. Dan yang memberikan kita hidup dan menjamin rezeki, sedangkan tugas manusia adalah menyelesaikan persoalan hidup ini sebagai tanda syukur.

Lalu apa makna bersyukur? Bersyukur adalah menerima dengan sadar anugerah Allah dan menggunakannya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Semua makhluk hidup diberikan kemampuan yang lengkap oleh Allah, tinggal bagaimana menggunakannya. Berarti manusia harus patuh dan taat.

Sudirman Teba menulis dalam bukunya, Membangun Etos Kerja dalam Perspektif Tasawuf bahwa syukur berarti berterima kasih. Maksudnya, berterima kasih kepada Allah atas nikmat yang dilimpahkan-Nya kdpada manusia.

Syukur dapat dilakukan dengan hati, lisan, dan badan. Syukur dengan hati adalah selalu mengingat Allah (dzikir), syukur dengan lisan ialah mengucapkan tahmid (pujian) kepada Allah, dan syukur dengan badan adalah menaati ajaran Allah, yaitu menjalankan perintah dan menjauhui larangan.

Rasulullah Saw pun sering berdoa agar diberikan kekuatan untuk selalu bersyukur, seperti doa yang diajarkan kepada Mu’adz bin Jabal, “Allaahumma a’iini ‘alaa dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibadatik. Wahai Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Seseorang yang mendapatkan anugerah dari Allah dan tidak mensyukurinya, pada dasarnya adalah orang yang sombong. Misalnya Ia merasa banyak kenaikan pangkat yang diterimanya adalah berkat usahanya sendiri, tanpa campur tangan yang lain. Orang yang sombong di mata manusia adalah orang yang hina, tidak tidak mulia. Sebaliknya, orang yang mendapat anugerah kemudian mensyukurinya terutama dengan berbagi kepada sesama, akan terlihat mulia di mata manusia dan Tuhannya.

Manusia yang selalu bersyukur akan selalu memuliakan dirinya dan menjaga amanahnya. Setiap manusia yang terlahir di dunia ini sudah diterakan tanda tangan Allah padanya. Bila kita melihat ciptaan-Nya yang indah dan sempurna, maka ingatlah Penciptanya. Orang yang mampu menjaga kemuliaannya adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya.

Memang pada dasarnya seseorang bersyukur karena mendapat anugerah, mendapat hadiah, mendapat rezeki. Naik pangkat, dapat bonus, terima order dan sebagainya, langsung bersyukur baik dengan sujud syukur atau mengundang orang makan untuk tahaddust bin ni’mah (menceritakan kenikmatan yang diterimanya dengan tujuan berbagai rasa senang).

Namun, mampu berbuat sabar sebenarnya adalah anugerah yang patut disyukuri pula. Seseorang yang bangkrut usahanya mampu untuk bersabar, mampu mengendalikan emosi, dan akal jernihnya adalah orang yang lulus ujian Allah. Maka, ia patut bersyukur. Sebab, tak beberapa lama insya Allah dia akan mendapatkan hikmah yang besar atas peristiwa nahas yang diterimanya. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber: Sebuah Renungan tentang Alam, Manusia dan Kehidupan, Palgunadi T. Setyawan, 2009.

banner 336x280
Baca Juga:  Sajian Ramadhan 25: Jangan Tinggalkan Kami, Ramadhan