Kisah Pepadu Legendaris Peresean Jadi Inspirasi Produksi Sandiwara Radio di NTB

Ketika Peresean DiangkatJadi Serial Sandiwara Radio: Libatkan Penulis, Pemain Sandiwara dan Penyiar Radio Ternama di NTB

Inspira119 Dilihat

Mataram, BERBAGI News – Tradisi peresean khas masyarakat Sasak Lombok kini memasuki medium baru.

Warisan budaya yang selama ini identik dengan arena pertarungan rotan tersebut akan diangkat menjadi serial sandiwara radio bertajuk “Napas Peresean dalam Sandiwara Radio”.

Program ini dirancang sebagai drama audio berseri yang menampilkan kisah kehidupan para pepadu, figur sentral dalam tradisi peresean yang sarat nilai keberanian dan solidaritas. Produksi ini melibatkan sejumlah penulis, penyiar, hingga praktisi radio berpengalaman di Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Program ini menghadirkan kisah dramatik tentang dunia para pepadu, para petarung dalam tradisi peresean yang dikenal sebagai simbol keberanian, kehormatan, dan persaudaraan. Melalui pendekatan sandiwara radio, tradisi tersebut dihadirkan kembali dalam bentuk cerita yang menyoroti sisi kemanusiaan para pelakunya,” ungkap M. Sukri ‘Ray Aruman’ selaku inisiator sekaligus produser audio dramania ‘Napas Peresean dalam Sandiwara Radio’.

Pemilihan thema Peresean dalam produksi sandiwara radio ini tidak dilakukan secara instan.

Sukri menegaskan, proses pengembangan cerita diawali dengan riset mendalam melalui kajian pustaka, pengumpulan cerita lama, serta wawancara dengan sejumlah pihak yang memahami perjalanan para pepadu.

Baca Juga:  Inspiratif: Bakat Terpendam, Anak Yatim Bersinar Sabet Juara 3 di NTB Idol

“Sebagai produser, saya membentuk tim kecil yang melakukan kajian pustaka, mengumpulkan cerita-cerita lama, dan melakukan berbagai wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui perjalanan hidup para pepadu,” jelasnya.

Dalam pengembangan naskah, Sukri menggandeng jurnalis senior NTB dan penulis buku, Buyung Sutan Muhlis. Naskah sandiwara radio disebut telah rampung dan siap memasuki tahap produksi.

”Alhamdulillah, naskah sandiwara sudah tuntas ditulis beliau dan siap produksi,” ujarnya.

Sementara itu, proses produksi turut melibatkan sejumlah nama praktisi media dan penyiar radio kondang. Sebut saja Dedi Suhadi yang dipercaya sebagai sutradara.

Mantan Penyiar Senior RRI Mataram Esdarita didaulat sebagai sebagai pembawa cerita dan narrator.

Sedangkan penggarapan Pustaka musik, Teknik produksi dan montase dipercayakan kepada Zamy Sangga Firdaus selaku konten kreator audiovisual muda berbakat.

Tidak hanya itu, produksi ini juga akan menghadirkan kembali penyiar dan pemain sandiwara radio yang pernah populer pada masa kejayaan radio di NTB.

Sukri menilai langkah ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus strategi untuk menjaga kualitas artistik.

Baca Juga:  Sambut Hari Listrik Nasional ke-80, PLN Nyalakan Listrik untuk 136 Warga Tidak Mampu melalui Program Light Up The Dream

“Dengan menghadirkan kembali para aktor suara berpengalaman, saya berharap drama radio ini memiliki kualitas artistik yang kuat sekaligus menghadirkan nostalgia bagi generasi yang pernah hidup bersama kejayaan radio,” tandasnya.

Untuk menjaring pengisi suara, timnya menggandeng komunitas penyiar radio seperti Tenda Siar NTB dan Radio Kita. Proses audisi direncanakan menghasilkan talenta terbaik dari kalangan praktisi radio lokal.

“Insyaallah proses audisi pengisi suara akan menghasilkan talent terbaik,” sebutnya.

Serial ini direncanakan terdiri dari tujuh episode yang mengangkat perjalanan seorang anak yang tumbuh di lingkungan peresean.

Cerita akan mengeksplorasi dinamika kehidupan, mulai dari keberanian, luka, hingga makna persaudaraan dalam tradisi tersebut.

Produksi ini tidak hanya berfokus pada hiburan, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal kepada publik yang lebih luas melalui medium audio.

“Saya membayangkan bagaimana kisah-kisah heroik para pepadu Peresean dapat dihidupkan kembali melalui medium audio,” ulas Sukri.

Ia menambahkan, radio memiliki kekuatan dalam membangun imajinasi pendengar, sebagaimana era kejayaan sandiwara radio pada dekade 1980–1990-an.

Baca Juga:  CSR Awards 2020 "Kampung PLN Banget" Mataram Raih Juara III Tingkat Nasional

“Kita ingin menghadirkan kembali pengalaman itu, tetapi dengan cerita dari Lombok, dengan napas budaya Sasak yang kuat. Sebuah drama yang bukan hanya menghadirkan pertarungan, tetapi juga menampilkan perjalanan hidup, persahabatan, rivalitas, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Peresean,” tandasnya.

Program ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana dan LPDP.

Sukri menilai dukungan tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal melalui karya kreatif.

“Dukungan ini menjadi bukti bahwa negara memberi ruang bagi inisiatif kreatif masyarakat dalam merawat warisan budaya. Bagi saya pribadi, dukungan ini bukan sekadar bantuan program. Ini adalah kepercayaan bahwa cerita-cerita dari Lombok layak untuk diangkat dan dibagikan kepada publik yang lebih luas,” imbuhnya.*

Tentang Program

Judul: Napas Presean dalam Sandiwara Radio

Jumlah Episode:
7 Episode

Produser: M. Sukri AR

Penulis Naskah dan Ide Cerita:
Buyung Sutan Muhlis

Pembawa Cerita/Narator:
Esdarita

Teknik dan Montage:
Zami Sangga Firdaus

Sutradara :
Dedi Suhadi

Didukung oleh:
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
melalui Program Dana Indonesiana

banner 336x280