Momentum Tahun Baru Hijriyah, Bermuhasabah, Bercermin Menakar Diri

Agama112 Dilihat

TAHUN Baru Hijriah bukan hanya tentang pergantian angka dalam kalender Islam. Lebih dari itu, momen 1 Muharram menjadi kesempatan untuk bermuhasabah, bercermin menakar diri, dan menyusun langkah menuju kehidupan yang lebih baik.

Kalender Hijriah sendiri berawal dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah. Peristiwa tersebut mengajarkan perubahan menuju kebaikan dan ketaqwaan.

Tahun Baru Hijriah adalah momentum yang tepat untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah Swt dan sesama. Semoga hijriah yang diwariskan Rasulullah Saw mengajarkan bahwa setiap Muslim selalu memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Muharram adalah bulan pertama dalam penanggalan Islam atau yang lebih dikenal srbagai tahun Hijriah. Selanjutnya, perlukah kita mempersiapkan sesuatu untuk menyambutnya, sebagaimana kebanyakan orang dalam menyambut tahun baru Masehi?

Dalam kehidupan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya memang tidak dikenal perayaan tahun baru sebagaimana yang biasa dirayakan oleh umat nonmuslim dengan berpesta dan menyalakan kembang api sebagai tanda bergembira menyambut tahun baru harapan yang lebih baik di tahun baru.

Islam hanya mengenal tradisi bermuhasabah atau bercermin mengukur diri, mengoreksi dari kesalahan dan kekhilapan yang pernah kita lakukan untuk kita perbaiki di masa-masa selanjutnya dalam kehidupan kita.

Itu pun sesungguhnya dilakukan bukan satu tahun sekali atau hanya tahun baru saja, tetapi seharusnya menjadi aktivitas harian menjelang tidur. Meskipun demikian, tidak ada salahnya kita memanfaatkan momentum tahun baru Hijriah itu untuk bermuhasabah, bercemin menakar diri.

Baca Juga:  Siklus Peradaban

Muhasabah disini tentu saja muhasabah yang kita lakukan dengan kebeningan hati, melihat dengan jujur pada diri sendiri tanpa menutup-nutupi atau mencari pembenaran atas sikap dan tingkah laku kita yang salah.

Disini kita harus obyektif dan membuka diri terhadap hati nurani kita, karena hati nurani selalu menunjukkan kepada kebenaran. Apa yang menurut hati sudah benar, teruslah kita tingkatkan, akan tetapi apa yang menurut hati nurani salah, hendaklah segera kita perbaiki.

Bagaiamana menilai hasil muhasabah yang kita lalukan? Mungkin pertanyaan itu menggelayut di benak kita. Sesungguhnya menilai muhasabah itu mudah saja. Rasulullah Saw. memberikan panduan kepada kita dalam menilai diri sendiri.

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia celaka!”

Itulah salah satu ukuran dalam menilai diri kita sendiri. Apakah kita termasuk orang yang beruntung, merugi atau celaka? Hati nurani kita sendirlah yang paling obyektif dalam menilainya.

Jika hari ini atau tahun ini kita lebih baik dari hari-hari atau tahun-tahun kemarin, maka bersyukurlah, karena kita termasuk orang-orang yang beruntung. Ini berarti, orang yang beruntung dalam persfektif Rasululullah Saw. adalah orang-orang yang kebaikannya selalu bertambah dan meningkat dari waktu-ke waktu.

Baca Juga:  Padamkan Bara Api Dosa dengan Air Mata Penyesalan

Tetapi merugilah kita jika hari ini atau tahun ini prestasi kebaikan kita sama saja drngan hari atau tahun kemarin. Mengapa demikian? Karena itu berarti kita tidak mampu memanfaatkan waktu yang kita miliki untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kelebihan yang sudah kita raih. Ibarat pedagang, waktu yang kita miliki tidak menghasilkan laba, sehingga pada hakikatnya kita tidak mendapatkan apa-apa, alias merugi.

Dalam Islam, waktu dinilai begitu berharga, sehingga setiap tambahan waktu mestinya menjadi tambahan kebaikan kita. Orang-orang yang stagnan atau mandeg pada satu prestasi tertentu tidak dinilai sebagai orang yang beruntung, tetapi justru sebagai orang yang merugi. Karena itu, kemajuan atau keuntungan dalam Islam dipandang sebagai peningkatan prestasi secara terus menerus.

Yang lebih parah, tentu saja orang-orang yang hari ini atau tahun ini justru prestasi kebaikannya lebih buruk daripada hari atau tahun kemarin. Orang-orang ini bukan hanya merugi, tetapi juga disebut sebagai orang yang celaka atau bangkrut, karena tidak mampu mempertahankan prestasi kebaikan yang telah diraihnya.

Justru prestasi kebaikannya itu semakin turun. Orang-orang ini bukan hanya tidak memanfaatkan waktu yang dimilikinya, tetapi juga tidak mampu mensyukuri waktu yang diberikan oleh Allah untuk mengejar prestasi yang terbaik.

Baca Juga:  Biaya Haji yang Harus Dibayar Jamaah Rp55,43 Juta, Begini Rincian dan Fasilitasnya

Dalam Islam, keuntungan dan kerugian manusia tidak bisa dilepaskan dari konsep tentang ‘waktu’. Artinya, keuntungan dan kerugian yang dialami manusia, selalu berhubungan dengan kemampuannya mengisi waktu yang diberikan oleh Allah Swt. Karena itu, tidak heran dalam surat al-‘Ashr, Allah mengingatkan tentang waktu dan prestasi manusia ini.

“Demi masa (waktu ‘Ashar). Sesungguhnya manusia itu merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta saling nasehat tentang kebenaran dan saling menasrhati dalam kesabaran.” (QS. al-‘Ashr [103]: 1-3)

Dalam ayat tersebut jelas sekali disebutkan, bahwa pada hakikatnya manusia akan selalu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan memanfaatkan waktunya untuk berbuat kebaikan dan menasehati tentang kebenaran dan kesabaran.

Jika dikaitkan dengan ayat ini, sesungguhnya muhasabah juga bisa menjadi sarana untuk menasenati diri sendiri untuk selalu menjaga kesabaran jika dalam menghadapi hari-hari yang akan datang.

Allah Swt mengingatkan kita semua melalui firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Wallahu ‘alam bish shawab.

Sumber: Merenungi Jejak Tuhan Bercermin Pada Nurani, Ridwan Malik, 2006.

banner 336x280