Jejak Perjalanan Kampung Mualaf di Mareje Timur Dusun Batu Bagus

Oleh: KKP UIN Mataram

Nusantara47 Dilihat

BERBAGI News – Di tengah kehidupan masyarakat Desa Mareje Timur, Kabupaten Lombok Barat, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan sejumlah keluarga dalam memeluk Islam.

Proses tersebut berlangsung bertahap, sejak masyarakat masih memegang kepercayaan lama hingga akhirnya sebagian keluarga memilih menjadi Muslim.

Sebelum Islam berkembang, masyarakat di Dusun Tendaun dan Dusun Ganjar masih menganut kepercayaan lama yang dikenal sebagai waktu telu atau animisme.

Memasuki tahun 1990-an, agama Budha mulai hadir di wilayah tersebut. Namun, pada periode yang sama, ketertarikan terhadap Islam mulai tumbuh di kalangan sebagian masyarakat.

Salah satunya dialami Muhammad Nasirah. Sejak sekolah dasar, ia telah tertarik mempelajari Islam. Keinginannya semakin kuat ketika hendak melanjutkan pendidikan. Ia bahkan menyatakan tidak ingin sekolah jika tidak dapat masuk ke sekolah yang berbasis agama Islam.

Baca Juga:  Sambut HUT Ke-95 Al Washliyah NTB Merajut Silaturahmi Ke MUI NTB

Keinginan tersebut akhirnya membawanya ke Pondok Pesantren Nurul Hakim, Kediri. Pada 1992, Nasirah memeluk Islam dan mulai mendalami ajaran agama. Setelah dirinya masuk Islam, anggota keluarganya secara bertahap mengikuti. Pada 1996, sekitar 49 anggota keluarga disebut memutuskan untuk memeluk Islam secara bersama-sama.

Keputusan tersebut tidak datang begitu saja. Keluarga sebelumnya melakukan pembicaraan dan mempertimbangkan keputusan tersebut. Pesan dari kakek Nasirah juga menjadi salah satu hal yang diingat dalam perjalanan keluarganya untuk memilih Islam.

Pada masa itu, Mareje masih sulit dijangkau. Akses jalan terbatas dan sebagian wilayah masih berupa jalan setapak. Kondisi tersebut membuat masyarakat sulit mendapatkan akses pendidikan dan pembinaan keagamaan.

Kehadiran tokoh agama kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangan Islam di wilayah tersebut. Nasirah mengaku pernah mengajak sejumlah tuan guru untuk datang dan menginap di Mareje. Pada masa awal, masyarakat hanya memiliki sedikit guru agama, salah satunya almarhum Tuan Guru Yasin yang ketika itu masih dikenal sebagai Ustaz Munakit.

Baca Juga:  Menuju Lingkungan Pendidikan dan Dunia Kerja yang Aman, PLN UIW NTB Edukasi Pencegahan Kekerasan Seksual

Pembinaan terhadap masyarakat mualaf juga pernah dilakukan dengan mengirimkan santri dari Pondok Pesantren Nurul Hakim untuk memberikan pendampingan. Selain itu, pembangunan masjid melalui bantuan dari Yayasan Nurul Hakim dan donatur dari Makkah turut memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat.

Menjadi mualaf tidak hanya berarti mengucapkan syahadat. Masyarakat juga harus belajar menjalankan ibadah sekaligus beradaptasi dengan keluarga yang sebagian masih memiliki keyakinan berbeda.

Perbedaan tersebut terkadang menimbulkan kesalahpahaman, terutama dalam persoalan adat dan pengurusan anggota keluarga yang meninggal. Namun, persoalan perlahan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan pemberian pemahaman agama.

Baca Juga:  22 Pelaku Perang Sarung di Mataram diamankan Polisi

Meski berbeda keyakinan, hubungan sosial antarwarga tetap terjalin. Sebelum maupun setelah sebagian masyarakat memeluk Islam, mereka masih saling membantu dalam berbagai kegiatan kehidupan sehari-hari.

Bagi Nasirah, perjalanan menjadi Muslim juga tidak berhenti pada dirinya. Ia berharap ilmu agama yang diperolehnya dapat bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Bahkan ketika mendapat kesempatan untuk berdakwah lebih luas, ia tetap memikirkan anggota keluarganya yang hingga kini masih belum memeluk Islam.

Kisah kampung mualaf di Mareje Timur bukan sekadar cerita tentang perpindahan keyakinan. Di dalamnya terdapat perjalanan keluarga, pendidikan, dakwah, serta proses masyarakat belajar hidup berdampingan dalam perbedaan.

Dari wilayah yang dahulu sulit dijangkau, kehidupan masyarakat perlahan berkembang, sementara jejak perjalanan para mualaf tetap menjadi bagian dari sejarah Mareje Timur.

***

banner 336x280