“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al -‘Alaq: 1-5).
BERBAGI News – MEMBACA adalah aktivitas yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan para ulama, termasuk para penuntut ilmu. Membaca merupakan jendela dunia. Jika kita tidak bisa membuka jendela tersebut, bagaimana mungkin kita mampu mengenal dunia dan berkontribusi padanya?
Membaca itu medium terbaik untuk belajar. Karenanya, ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi pun terkait perintah membaca: Iqra’. Aktivitas membaca menjadi penting sebagai pemenuh kebutuhan gizi pikiran.
Para ulama memiliki kecintaan yang luar biasa dalam membersamai buku-buku, yang mereka miliki. Diceritakan bahwa saat menuntut ilmu, Ibnul Jauzi membaca 20.000 jilid kitab. Bahkan Ibnu Taimiyah tetap membaca meskipun dokter yang merawatnya melarang. Menurutnya, membaca ini sebagai terapi penyembuhan.
Namun disayangkan, akhir-akhir ini kegiatan membaca buku sepertinya sudah tak digemari lagi. Kita lebih suka dan betah berjam-jam membaca berita atau gosip yang bertebaran di media sosial. Padahal, buku bisa memuaskan dahaga akan ilmu pengetahuan.
Mohhammad Jaelani Imron mengatakan bahwa: “Buku itu seperti anak tangga. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin tinggi kita melangkah. Semakin tinggi kita melangkah, sudut pandang kita pun semakin luas. Ada banyak hal yang sebelumnya tak pernah kita lihat, namun setelah membaca, selalu ada sudut pandang baru yang mampu kita jamah.”
Indonesia sendiri menempati posisi paling bawah di atas Bostwana dalam minat membaca. Menurut UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang gemar membaca. Negara kita memang kini mengalami darurat literasi. Literasi rendah nembuat seseorang berpikiran pendek, mudah marah, selalu mengedepankan emosi daripada nalar.
Pada salah satu seminar di kota Madinah yang dikuti oleh Mohammad Jaelani, penulis buku Jangan Penah Berhenti Belajar (2025), bahwa salah seorang narasumber ia mengatakan: “Minat berkomentar orang Indonesia tinggi, tapi sayangnya minat baca kita lemah. Oleh karenanya, banyak sekali hoax (kabar dusta) yang mudah dipercaya.”
Kita harus banyak membaca. Sungguh memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah meningkatkan kualitas menulis dan public speaking (orasi) kita. Membaca adala infut (masukan), sementara menulis atau berbicara adalah output (keluaran). Tidak akan ada output bagus jika infut-nya buruk.
Jangan heran apabila outfut yang berupa tulisan di media sosial dipenuhi oleh hujatan dan cacian. Penyebabnya adalah minimnya literasi keilmuan yang dimiliki, hingga kita menjadi manusia bersumbu pendek yang mudah tersinggung.
Tidak salah jika Syaihk Ali bin Muhammad mengatakan: “Kewajiban ulama hari ini lebih ke menyadarkan generasi penerus ihwal pentingnya khazanah peninggalan para ulama terdahulu, sebab khazanah itu merupakan intisari pemikiran mereka selama berabad-abad silam.”
Generasi muda yang disibukkan dengan “menuntut ilmu” tidak akan memiliki waktu untuk nyinyir (cerewet) atau suka berdebat kusir di sosial media. Mereka akan sibuk menyelami karya para ulama, mereka membaca karya pujangga, dan mentadabburi alam semesta.
Jika kita mampu melahirkan generasi yang suka membaca, kemajuan pasti akan nenyertai bangsa dan negara. Saat ini kita berada pada zaman tatkala tekad serta semangat melemah, ditambah membanjirnya hiburan yang melalaikan. Kita akan semakin tertinggal dan mundur sebab meninggalkan khazanah keilmuan dan sibuk dengan hal yang remeh temeh.
MENGAPA KITA HARUS MEMBACA?
Pertama: Dengan membaca kita akan mendapat informasi dan wawasan. Cara pandang kita terhadap sesuatu semakin terbuka karenanya, karena bacaan adalah gudang ide dan sumber pengetahuan. Kita selalu dapat menimba sesuatu dari membaca, maka tak salah jika ayat pertama yang turun adalah ” IQRA’ ” bacalah. Sungguh bacaan adalah sumber
Kedua: Membaca membentuk nalar dan mengasah kreativitas. Saat membaca, kita mengambil ide dan gagasan penulis terkait berbagai macam hal, bisa juga kita nengembangkan ide dari gagasan tersebut. Ini yang membuat pikiran dan kreativitas kita berkembang.
Ketiga: Membaca membentuk pola berpikir, cara kita bernalar, dan cara kita memandang sesuatu. Jadi, daya bentuk dari kegiatan rutin membaca ini yang sangat penting bagi akal dan hati kita.
Keempat: Buku adalah rekaman kecerdasan. Maka tidak salah jika ada yang mengatakan: “Jika kalian ingin menyelami otak dan pikiran orang-orang hebat segera bacalah karyanya; dan jika kalian menginginkan keabadian, maka menulislah.”
Kelima: Buku adalah penafsir dan penerjemah ide dan gagasan, dan dari buku kita dapat banyak belajar mengetahui berbagai sudut pandang.
Keenam: Buku adalah kompleksitas pemikiran manusia. Kita harus tahu bahwa di luar sana bujan hanya ada hitam putih saja. Ada beragam pemikiran serta ide yang berbeda di setiap otak manusia yang bisa dipelajari untuk melihat sesuatu dari berbagai macam sudut pandang. Ini penting agar kita tidak mudah baper-an. Disamping itu, kita akan menjadi pribadi yang lebih bijak denagan banyak membaca.
Dengan demikian, jika kita memiliki dorongan yang jelas untuk membaca, kita akan konsisten untuk terus membaca. Semua orang besar adalah self motivated, maksudnya mereka mampu memotivasi diri sendiri serta senantiasa menginginkan perubahan ke arah lebik baik.[]
Referensi: Rahasia Besar Kejayaan Umat, Mohammad Jaelani Imron, Pustaka Imam As-Syafi’i, 2025. dan Sumber Lainnya.
Medan, Oktober 2026, Aswan Nasution, Anggota Dewan Pertimbangan PB. Al Washliyah Periode 2026-2031.














