“Banyak event budaya yang melibatkan masyarakat selain kuliner,” katanya.
Sedang dari sisi sejarah, kata Usman di Bonjeruk masih ada kantor distrik pertama yang dibangun pada 1933 selain Masjid Raden Nunu Unas yang dibangun pada 1800-an dan situs geologi di sungi Bonjeruk.
“Kami menyebut kantor Distrik pada zaman Kolonial dengan sebutan Gedeng Beleq,” katanya.
Menyangkut transportasi dan akomodasi, Usman menyatakan wisatawan tak perlu khawatir. Pasalnya, Desa Bonjeruk bisa ditempuh dengan berbagai kendaraan.
“Jika dari bandara (BIZAM) ditempuh sekitar 20 menit, sedang bila dari Mataram sekitar 30 menit,” katanya.
Untuk mengunjungi Desa Bonjeruk, jelas Usman wisatawan bisa datang secara berkelompok atau sendiri-sendiri.
“Bila ingin menginap lebih lama wisatawan bisa menginap di homestay atau cottage dengan tarif dari 150 hingga 400 ribu rupiah permalam,” katanya. (DSHD)
















