“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan berimanlah kepada Allah…”. (QS. Ali Imran: 110)
BERBAGI News – AMAR MA’RUF dan NAHI MUNKAR makin cetar membahana lebih-lebih setelah dikibarkan sebagai ‘moral koletif’, misalnya menjadi salah satu agenda unggulan Organisasi-organisasi keislaman yang berkembang di masyarakat sejak sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah, NU, AL WASHLIYAH, Perti, Persis dan sebagainya, istiqamah memeganggi amar ma’ruf nahi munkar.
Dalam konsep Al-Qur’an, bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan syarat untuk menjadi khairo ummah (umat terbaik). “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)
Sejalan dengan ayat di atas, Al Washliyah, menetapkan amar ma’ruf nahi mungkar (menegakkan kebaikan dan mencegah kemunkaran) sebagai misi utama dalam Panca Amal Al Washliyah. Gerakan ini diwujudkan melalui pendidikan, dakwah, dan amal sosial. Untuk menciptakan masyarakat yang berakhlak mulia, dan mencegah kerusakan.
Selain itu, Panca Amal Al Washliyah juga merupakan pilar program perjuangan dan pengabdian dari organisasi Islam Al Washliyah. Pilar-pilar ini mencakup seluruh aspek kehidupan bermasyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan umat dan mencari ridha Allah SWT. (Jurnal UINSU)
Dalam pandangan Islam, kritik adalah bentuk amar ma’ruf nahi munkar yang bertujuan untuk seseorang atau kebijakan kembali kepada kebenaran. Yakinlah sepanjang Al Washliyah mampu menjadikan amar ma’ruf nahi mungkar yang konstruktif, dan juga sebagai bahan refleksi untuk memperkuat arah perjalanan organisasi akan semakin kuat dan besar.
Bila kita kaitkan pada dinamika dalam perjalanan sebuah organisasi, maka kritik bukan berarti serangan, mencari kelemehan dan kekurangan terhadap organisasi. Melainkan wujud kepedulian agar organisasi tetap menjadi kekuatan moral bangsa. Kritik adalah merupakan masukan yang bernilai tinggi bagi masa depan sebuah organisasi yang besar.”
Menurut Yudi Latif Ketua Pusat Pendidikan Islam dan Kenegaraan mengatakan, “Mari kita jadikan kritik sebagai jamu yang pahit, tetapi menyehatkan. Kritik yang lahir dari rasa cinta akan selalu menjadi bekal yang terbaik untuk memperkuat organisasi menghadapi masa depan.”
Sebagai bahan refleksi untuk memperkuat arah perjalanan organisasi, Yudi Latif juga mengatakan, “Menjaga jarak moral dengan kekuasaan, mengingatkan bahwa kedekatan lembaga keagamaan dengan kekuasaan berpotensi mengurangi independensi organisasi, apabila agama hanya dijadikan legitimasi politik atau simbol seremonial. Harus tetap menjalankan fungsi sebagai kekuatan moral yang berani mengoreksi penyimpangan, bukan sekadar membenarkan kebijakan penguasa”. ungkapnya.
Mengutip pesan Abu Hamid al-Ghazali, seorang filsuf muslim Persia, mengatakan, “kerusakan masyarakat berawal dari rusaknya pemimpin, sementara rusaknya ulama yang terjebak pada kencintaan terhadap harta dan kedudukan. “Pesan tersebut dinilai tetap relevan sebagai pengingat moral bagi seluruh elemen kepemimpinan umat”.
Menghadapi Muktamar ke-23 Al Washliyah, tentu semua kita berharap forum permusyawaratan tertinggi organisasi tersebut tidak berhenti pada agenda organisasi lima tahunan dan seremonial semata. Harapan Muktamar ke 23 kali ini menjadi momèntum menghidupkan kembali semangat amar ma’ruf nahi mungkar, sekaligus merumuskan strategi untuk kemajuan Al Washliyah itu sendiri tetap aktual dan kontekstual di tengah perubahan zaman.
Panca Amal Al Washliyah adalah lima pilar:
- Pendidikan dan Kebudayaan
- Dakwah dan Kaderisasi
- Amar Ma’ruf Nahi Munkar
- Amal Sosial (Panti Asuhan dan Fakir Miskin.
- Ekonomi dan Kesejahteraan Umat.
(Dikutip STAI YPIQ)
Nashrun minallahi wa fathun qariib wabasysyiril mu’minin. Hiduplah Al Washliyah Zaman Berzaman.
Sumber lain: pelita,co/news, islami [dot]co.













