Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Indonesia Ditengah Hantaman Badai Korupsi

Religi107 Dilihat

BERBAGI News – TANGGAL 17 Agustus merupakan hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, pada hari tersebut segenap komponen bangsa merayakan kemenangan dan kemerdekaan setelah sekian ratus tahun lamanya hidup dibawah bayang-bayang intimidasi dan kedzaliman para penjajah.

Sangat wajar, jika kemenangan ini disambut dengan luapan kegembiraan yang gegap gempita, seraya mengumandangkan kalimat tahmid, memuji dan mensyukuri karunia Allah yang terbesar bagi bangsa ini.

Sesuai dengan firman Allah Swt: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Apabila kita sebagai suatu bangsa pandai memanfaatkan nikmat kemerdekaan dengan mejalani kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara penuh berbagai program pembangunan Indonesia ini dengan ketaatan kepada Allah SWT, niscaya nikmat tersebut akan Allah tambah kepada kita semua.

Namun sebaliknya bilamana kemerdekaan itu kita sikapi dengan menjalani kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara jauh dari tuntunan ilahi, maka sudah sewajarnya nikmat kemerdekaan malah terasa menjadi sumber bencana dan bahkan azab.

Baca Juga:  Nasehat Kematian

BANGSA KITA YANG KURANG BERSYUKUR

KH. Abdullah Gymnastiar, dalam bukunya berjudul, “Tausiyah Untuk Bangsa yang Tengah Didera Musibah mengatakan, “Sudah saatnya bangsa kita introspeksi diri, merenung kembali perjalanan bangsa ini yang telah lalu, untuk melakukan perbaikan-perbaikan di masa depan.”

Aa Gym, juga menjelaskan, “Tidak akan pernah benar bangsa ini, jika tidak pernah bersunguh-sungguh kembali kepada Allah dengan menjadikan prinsip bersyukur atas nikmat Allah sebagai landasan berbangsa dan bernegara.” ungkapnya.

Aa Gym menambahkan, “Tidak usah heran, kekayaan negeri yang begitu melimpah sebagai karunia Allah yang terbesar kepada bangsa ini, tiba-tiba menjadi bala bencana yang mengerikan. Negara yang kaya tiba-tiba jadi miskin penuh tumpukan hutang. Semua ini mengisyaratkan bahwa kita adalah bangsa yang kurang bersyukur.”

INDONESIA DIHANTAM BADAI KORUPSI

Membaca Artikel M. Isa Thoriq yang berjudul “Indonesia Dihantam Badai Korupsi.” mengungkapkan, “Lihatlah, bagaimana kondisi Indonesia saat ini, dihantam badai korupsi yang sangat memperhatinkan, sebuah negara besar dengan penduduk muslim terbesar no 2 di dunia ini sepertinya telah berada di kondisi mengkhawatirkan pasca reformasi karena praktik korupsi yang dilakukan oleh masyarakat, pejabat dan para elit.”

Baca Juga:  Hijrah dan Kebangkitan Ummat

Ia juga menjelaskan bahwa, “Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan hilangnya keadilan, pembangunan yang timpang, demokrasi yang ugalan-ugalan, birokrasi yang menyimpang, ujungnya masyarakat sendiri yang akan menjadi korban.

Hal yang lebih mengkkawatirkan atau yang lebih berbahaya lagi dari korupsi ini adalah masyarakat (korban) tidak merasa menjadi korban dari praktik korupsi yang terjadi di sekitarnya, tiba-tiba saja kualitas bantuan sosial menurun, kondisi jalan rusak, pendidikan mahal, harga bahan pokok naik, kemiskinan meningkat, dan kriminalitas tinggi.” pungkasnya

PERAN ORMAS ISLAM DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI

Kini, saatnya ormas Islam seperti, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) Al Jam’iyatul Washliyah (Al Washliyah), dan sekian ormas lainnya mengambil peran penting dalam pemberantasan korupsi. Dengan potensi besar yang dimilikinya dapat ikut menyelamatkan Indonesia di hantam badai korupsi.

Pemberantasan korupsi adalah bagian nyata dari amar ma’ruf nahi munkar, karena korupsi merupakan bentuk kejahatan (munkar) yang merusak tatanan sosial merugikan rakyat, sementara pencegahan serta penindakan adalah upaya menegakkan keadilan dan kejujuran (ma’ruf).

Baca Juga:  Lombok Bersiap Sambut Tabligh Akbar Sahabat UAS "Semeton Seumur Irup" Bersama Ustadz Abdul Somad

MENGABDILAH DENGAN PENUH RASA TANGGUNG JAWAB

Kita, tunjukan diri kita kepada Allah Swt, bahwa kita adalah bangsa yang pandai bersyukur atas segala nikmatnya terutama nikmat kemerdekaan ini. Janganlah sampai kita berkhianat terhadap negara kita, berkhianat terhadap tugas kita, berkhianat kepada Allah Swt.

Kita tingkatkan terus darma bakti kita dalam mengisi kemerdekaan ini. Kita tempat diri kita sesuai dengan kemampuan dan posisi kita masing-masing. Bagi seorang pemimpin, maka pimpinlah dengan penuh kasih sayang dan niat yang tulus, bagi seorang pegawai, karyawan, dosen, guru, dan lainnya, maka bekerja dan mengabdilah dengan penuh rasa tanggung jawab. Mudah-mudahan kita tidak pernah menyerah untuk mewujudkan negara yang adil dan makmur sentosa. Wallahu A’lam Bish Showab.

ASWAN NASUTION, Lombok, Mataram, NTB.

Sumber/Referensi:
Aa Gym, Tausyiah Untuk Bangsa yang Tengah Didera Musibah, MQS, 2002. Abdul Bakir, Kumpulan Ceramah, Media Utama, 2018. M. Isa Thoriq A. Ibtimes.id.08/06/2024.

banner 336x280