Manfaatkan Teknologi untuk Kemaslahatan

Religi119 Dilihat

BERBAGI News – Islam dan teknologi bisa saling melengkapi. Agama memberikan rambu-rambu moral dan akhlak, sementara teknologi dengan segala kemajuannya, dapat ‘pembumian’ ajaran agama.

Penggunaan teknologi informasi memang tidak dilarang, bahkan dianjurkan sepanjang untuk kemaslahatan umat. Di luar itu, apalagi yang mengarah ke maksiatan, gosip, membuang-buang waktu dan lainnya, seharusnya dihindari.

Menurut Prof. Dr. Abududdin Nata, MA, mengatakan bahwa, “Agama tidak menabuhkan teknologi. Bahkan, Islam sangat membutuhkan teknologi, karena teknologi tersebut sebenarnya adalah merupakan hasil ijtihad manusia, dan Islam sangat mendorong ijtihad dalam segala bidang yang diyakini akan dapat memberikan berbagai kemudahan. Jadi, antara teknologi dan agama, bisa saling melengkapi.”

Selain itu, Abuddin Nata menguraikan pada kaitan ini bahwa, “Agama akan memberikan dasar moral sehingga penggunaan teknologi dapat dimaksimalkan secara tepat. Bukan untuk kemaksiatan, merusak, eksploitasi kejahatan, terlampau membuang waktu sehingga melupakan ibadah dan memperdalam ilmu agama, dan sebagainya.”

Baca Juga:  Siapakah Ahlul Qur'an itu?

Sebaliknya pula, agama membutuhkan teknologi dan realisasi pelaksanaan ajaran agama. Pembumian agama, memerlukan teknologi. “Misalnya dalam bidang pendidikan agama dan dakwah tentu akan lebih mudah serta efektif, bila ditunjang teknologi,” papar Abuddin Nata.

TEKNOLOGI INFORMASI DAN PENGUATAN AKIDAH

Ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakekatnya berasal dari Allah SWT, sehingga jangan sampai penggunaannya justru menjauhkan manusia dari Sang Pencipta.

KH. Cholil Ridwan, berpendapat bahwa,” Selama umat menggunakannya sesuai dengan iman, tidak merugikan orang lain serta tidak melanggar akidah dan syari’ah, ya tidak ada masalah, justru dianjurkan.”

Tidak hanya sampai disitu, KH. Cholil, lebih jauh lagi menguraikannya, “Hal tersebut bukan sekadar angan-angan. Pasalnya, Islam pernah menjadi kekuatan besar dibidang ini (teknologi), tepatnya ketika zaman keemasan sekitar 700 tahun yang lalu,”

Baca Juga:  Maulid Nabi Muhammad SAW, Jadikan Akhlak Rasulullah Sebagai Teladan

Lihatlah, Andalusia di Spanyol dan Baghdad di Irak, merupakan dua kota utama pusat peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi waktu itu. Banyak ilmuwan Muslim berkiprah di sana dan menelurkan karya-karya luar biasa yang hingga era modern kini masih menjadi rujukan penting.

Kenyataan ini menggambarkan bahwa Islam tidak menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena pada hakekatnya, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan ilmu dari Allah SWT, seperti disebutkan dalam QS al-Alaq (96) ayat 1-5, ” jelasnya.

MENAMBAH KEIMANAN

Jadi pada intinya, ilmu pengetahuan dan teknologi harus bisa dimanfaatkan secara baik oleh manusia, dengan tidak merugikan orang lain. Ilmu yang bermanfaat hendaknya juga dapat merupakan sarana untuk menambah keyakinan kepada Allah SWT.

Baca Juga:  Peranan Muslimah sebagai Agen Perubahan

Teknologi juga tidak boleh mendorong seseorang melenceng dari akidah syariah. Teknologi tidak boleh membuat seseorang memajuh dari Allah SWT, atau bahkan lebih berbahaya, melupakan-Nya.

Menilik analisa Erich From dalam bukunya Revolution of Hofe, bahwa kemajuan teknologi bila digunakan tanpa koridor, dapat membawa manusia pada pola pikir yang materialistik oriented selain menyuburkan budaya pragmatisme dan hedonisme.

Dari sini, ada kekhawatiran nilai-nilai agama terpinggirkan, karena manusia semakin dimanja kemajuan teknologi, yang dari istilah Sayyed Hosen Nasr, manusia modern telah mengaburkan jati diri mereka yang sesungguhnya.

Sehingga dari kondisi (yang bisa menjadi) seperti ini, sesungguhnya agama dapat memberikan pencerahan dalam kegersangan dan kehampaan spritualitas manusia modern. Wallahu a’lam bish showab.

Sumber: Republika, 26 Juni 2009

ASWAN NASUTION, Mataram-Nusa Tenggara Barat (NTB).

banner 336x280