Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin—atau yang akrab dipanggil Tuan Guru Bagu atau Datok Bagu—adalah salah satu ulama sepuh paling kharismatik dan dihormati di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Beliau dikenal luas sebagai figur pengayom umat, tokoh struktural Nahdlatul Ulama (NU), serta pendiri salah satu pesantren besar di Lombok. Beliau wafat pada 15 Oktober 2026 dalam usia 90 tahun.
Berikut adalah profil dan biografi lengkap perjalanan hidup almarhum:
1. Biodata Pribadi & Silsilah Keluarga
- Nama Lahir: Hasan Basri (nama masa kecil yang diberikan oleh ulama legendaris TGH. Saleh Hambali).
- Nama Lengkap & Gelar: TGH. Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin. Gelar kebangsawanan “Lalu” menandakan garis keturunan bangsawan (Perwangse) suku Sasak.
- Tempat & Tanggal Lahir: Desa Bagu, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, NTB; 1 April 1936 M (bertepatan dengan 9 Muharram 1355 H).
- Orang Tua: Putra dari pasangan Tuan Guru Haji Raden Badaruddin bin Haji Jamaluddin (seorang ulama pelopor pengajaran Islam di lingkungannya) dan Hajjah Aminah binti Haji Ridwan.
2. Riwayat Pendidikan & Sanad Keilmuan
Tuan Guru Bagu menempuh jalur pendidikan yang sangat kental dengan tradisi pesantren tradisional dan pengembaraan ilmu hingga ke pusat Islam:
- Asuhan Keluarga (Balita – Selesai): Beliau pertama kali belajar membaca Al-Qur’an langsung di bawah bimbingan ayahnya sendiri hingga umur 5 tahun, serta dilanjutkan bersama pamannya, Haji Semaun.
- Pendidikan Formal Pertama: Masuk ke Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1944.
- Nyantri di Lombok (1944–1958): Beliau berguru selama 14 tahun di Madrasah Mu’allimin Darul Qur’an Bengkel, Lombok Barat. Madrasah ini diasuh oleh ulama besar legendaris, TGH. Muhammad Saleh Hambali, tempat beliau mendalami dasar-dasar ilmu alat (Nahwu-Shorof), Fikih, dan Akidah.
- Pendidikan di Makkah (1958–1962): Beliau bertolak ke kota suci Makkah, Arab Saudi. Selama kurang lebih 10 tahun bermukim di sana, beliau berguru secara halaqah kepada ulama-ulama besar dunia di Masjidil Haram, memperkuat sanad keilmuan Islam tradisionalnya.
3. Perjuangan di Bidang Pendidikan (Pendiri Pesantren)
Sekembalinya dari Makkah pada tahun 1962, beliau mulai mengabdikan diri untuk mengajar.
- Pada tahun 1963, beliau mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Qomarul Huda di tanah kelahirannya, Desa Bagu, Lombok Tengah.
- Lembaga ini bertransformasi dari pengajaran langgar (mushola) menjadi kompleks pendidikan modern yang lengkap, mulai dari jenjang dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi dengan berdirinya Universitas Qomarul Huda Badaruddin (UNIQHBA).
4. Kiprah Organisasi, Thariqah, dan Keagamaan
Pengaruh Tuan Guru Bagu meluas tidak hanya secara lokal di Lombok, melainkan di kancah nasional:
- Nahdlatul Ulama (NU): Beliau mendedikasikan hidupnya sebagai struktur penting di NU. Beliau pernah memegang jabatan sebagai Rais Syuriyah PWNU NTB dan dipercaya sebagai salah satu dari jajaran Mustasyar PBNU. Beliau juga kerap tergabung dalam dewan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) NU untuk menentukan kepemimpinan tertinggi organisasi.
- Mursyid Thariqah: Tuan Guru Bagu merupakan pemegang sanad resmi dan bertindak sebagai Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), sebuah posisi spiritual tertinggi untuk membimbing zikir dan kerohanian para jemaahnya di NTB.
5. Kedekatan dengan Tokoh Nasional & Sikap Inklusif
Beliau memiliki hubungan emosional dan historis yang amat kuat dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Hubungan ini menjadikan kediamannya di Pesantren Qomarul Huda Bagu sering dikunjungi oleh tokoh-tokoh penting negara, mulai dari presiden, wakil presiden, hingga jajaran menteri yang ingin meminta doa, nasihat keagamaan, serta pandangan kebangsaan.
Tokoh bangsa mengenang beliau sebagai ulama yang teguh memegang prinsip Islam moderat yang Rahmatan lil ‘Alamin.















