Berharap Negeriku diberikan Keberkahan

Religi995 Dilihat

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan [ayat-ayat Kami] itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” [QS. Al-‘Araf: 96].

NEGERI yang penduduknya mayoritas beriman dan bertakwa akan mendapatkan keberkahan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti kemajuan ekonomi, stabilitas sosial, dan keamanan negara. Sebaliknya, negeri yang penduduknya banyak melakukan kemaksiatan dan mengingkari ajaran Allah akan menghadapi berbagai masalah dan kesulitan.

Dengan demikian surat Al-‘Araf ayat 96 mengajarkan pentingnya iman, takwa, dan ketaatan kepada Allah sebagai kunci meraih keberkahan dan menghindari siksa- Nya.

Semua orang pasti berharap negerinya menjadi negeri yang berkah. Dengan keberkahan ini penduduk suatu negeri akan hidup dengan aman, tenteram, makmur, subur, dipenuhi dengan kebaikan dan kebahagiaan.

Secara bahasa istilah berkah menurut Imam al-Ghazali, artinya Ziyaadul al-khair, yakni bertambahnya nilai kebaikan. Dikuatkan pula oleh Imam Nawawi bahwa berkah adalah tumbuh, berkembang atau bertambah dan kebaikan yang berkembang. [Republika.id.2021].

Bagaimana takwa itu, Ibn Mas’ud menjelaskan, “takwa adalah menaati Allah dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Senantiasa mengingat Allah serta bersyukur kepada-Nya tanpa ada pengingkaran [kufr] di dalamnya.” [Tafsir Ibn Katsir: Darat at-Thayyibah, 1999].

Kemudian ada pertanyaan yang menarik, mengapa Kota Makkah dan Negeri Arab sekitarnya maju dan makmur? adalah karena mereka penduduknya beriman dan bertakwa secara istiqamah, kerja keras dan ikhtiar. Dan ada juga beberapa kebiasaan orang Makkah, sehingga hidupnya makmur, tidak punya hutang, aman, dan sehat berumur panjang adalah; shalat tepat waktu, ketika azan berkumandang, mereka tinggalkan pekerjaan dan dagangan, berlomba-lomba menuju Masjid untuk berjamaah, rajin bersedekah dan membayar zakat.

Mereka selalu membersihkan hartanya dengan zakat dan sedekah dengan harta terbaiknya, bukan sisa karena tidak habis dimakan. Memuliakan tamu, orang Arab sangat terkenal dalam menghormati dan memulyakan tamu.

Diketahui Makkah adalah kota paling aman dan penduduknya berkecukupan. Meskipun tidak ada tanaman [tandus dan gersang] tetap segala makanan dan buah-buahan tersedia dengan harga yang murah. Fasilitas pendidikan dan kesehatan juga disediakan dengan gratis.

Pendapatan perkapita tinggi tidak ada pungutan berbagai pajak. Tidak ada orang miskin dan terlantar. Karena semua diurus oleh negara. Bahkan untuk mengeluarkan zakat dan sedekah saja kesulitan dan harus menunggu jamaah haji atau umrah datang. Negara juga tidak mempunyai hutang yang banyak bunganya terus berkembang. Sebaliknya justru berinvestasi kenegara-negara yang membutuhkan.

Inilah gambaran negeri yang diberkahi Allah SWT. Negeri yang menurut akal tidak mungkin bisa tumbuh berkembang, karena tandus dan gersang, tidak ada air dan tumbuhan, tetapi karena penduduknya beriman dan bertakwa, maka Allah SWT tidak pernah ingkar janji-Nya.

Firman Allah SWT: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan [ayat-ayat Kami] itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” [QS. ‘Araf: 96].

PERLU INTEROSPEKSI

Bagaimana dengan negeri kita Indonesia? masih banyak orang yang belum menikmati kemajuan. Hidup terasa sulit, serba kurang, dan bahkan dikejar-kejar hutang. Padahal Indonesia katanya adalah zamrut katulistiwa.

Koes Plus menggambarkannya, “sebagai tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Seperti kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan dan udang menghampiri dirimu.”

Sesungguhnya Indonesia kita ini adalah negeri yang kaya, alamnya yang subur dan indah, hasil pertaniannya, hasil lautnya, dan hasil tambangnya melimpah ruah dan belum lagi hasil lainnya yang tak terhitung banyaknya.

Disamping kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang yang telah dicapai oleh bangsa kita, tetapi harus diakui juga masih banyak bidang kehidupan yang memperhatinkan dan perlu perhatian. Masyarakat bila ditanya, apakah sudah menikmati kemakmuran dari ikhtiar pembangunan? Sebagian besar mereka menjawab “belum”.

Banyaknya pengangguran, bahkan lulusan perguruan tinggi sulit mencari kerja. Para pekerjapun gajinya kecil, hanya upah minimum regional. meskipun jam kerjanya panjang dan lembur. Kemudian banyak dililit hutang hampir semua pegawai dan karyawan mempunyai hutang atau kreditan, hidupnya gali lubang tutup lubang. Upahnya hanya cukup untuk makan. Tidak ada tabungan.

Hidup serba mahal. Pendidikan mahal, keshatan mahal, perumahan mahal, kebutuhan pokok mahal. Apa saja kena pajak, dari mulai makan di warung, parkir, segala pendapatan kena pajak.

Kesengjangan sosial semakin dalam ada yang sekedar orang yang merayakan ulang tahun pesta perkawinan saja menghabiskan uang miliyaran. Membeli tas atau sepatu ratusan juta. Sementara banyak anak-anak yang kurang gizi dan stanting karena tak kuat makan.

Banyak anak-anak yang putus sekolah dan menjadi pengasong, karena tidak mampu membayar biaya pendidikan. Banyak orang hidup menggelandang di jalan-jalan karena tidak kuat membeli rumah tempat tinggal yang pantas.

Uang negara untuk pembangunan sudah disiapkan berjumlah besar, tetapi tidak disampaikan atau dibawa lari dicuci, dan bahkan hilang sia-sia karena perikaku korupsi. Penegakan hukum juga masih tebang pilih. Hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Hukum membela yang bayar bukan yang benar. Sehingga masyarakat dibuat frustasi tidak percaya lagi ada hukum yang melindungi.

Maka kita semua perlu introspeksi, muhasabah. Mengapa negeri ini masih banyak kekurangan, kesulitan dan fitnah merajalela. Boleh jadi, mungkin iman dan takwa kita masih dipertanyakan, barangkali dosa kita lebih besar dari ibadah kita. Ego kita lebih menonjol dari semangat kebersamaan kita. Mungkin pemikiran kita terlalu sempit dan sombong. [Jatengdaily. Com.2022].

Dalam hal ini kaum muslimin, terutama yang berada ditampuk kekuasaan, jajaran pemerintahan dalam jabatan dan kedudukannya serta para pengusaha yang mengambil keuntungan dari mengelola sumber daya alam ini.

Penting memahami bahwa sumber keberkahan hidup ini ada pada keimanan dan ketakwaan yang diimplementasikan dengan menata diri sebaik mungkin, berorientasi maslahat, kemudian menyadari bahwa setiap perilaku serakah dan destruktif hanya akan mengundang bencana demi bencana.

Jauhilah sifat koruktif, manipulatif, dan menghalalkan segala cara dalam kehidupan ini. Semakin mendekatlah Allah kepada Allah SWT, jangan abaikan ayat-ayat dan perintah serta syari’at-Nya. Kemudian teruslah berjuang menjalani kehidupan dengan yakin sepenuhnya kepada janji Allah SWT. [ https:alhikmah.ac,id, 2019].

Inilah sumber keberkahan hidup kita bahkan negeri yang kita cintai. Semoga negeri kita Indonesia menjadi negeri yang diberkahi dan diridlai oleh Allah SWT. Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur. Wallahu ‘alam bis showab.

Sumber: Jatengdaily. Com.19/08/2022. Dr.H.Nur Khoirin YD, MAg.

banner 336x280
Baca Juga:  Tiga Keadaan hati Manusia dan 4 Hal membuat Hati Gelap