Intervensi Angka Stunting di Desa Taman Ayu Lombok Barat, Ini yang dilakukan Dosen Poltekkes Kemenkes Mataram

Pendidikan744 Dilihat

Lombok Barat, BERBAGI News — Untuk mendukung percepatan penurunan angka stunting melalui intervensi berbasis komunitas, Poltekkes Kemenkes Mataram menginisiasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Tim dosen dari Poltekkes Kemenkes Mataram terdiri dari Baiq Yuni Fitri Hamidiyanti, S.SiT., M.Keb., AtiSulianty, SST., M.Kes., dan Mutiara Rachmawati Suseno, M.Keb., terjun langsung gelaran yang bertajuk “Pelatihan dan Pendampingan Kader tentang Perawatan Payudara dan Manajemen ASI pada Ibu Hamil Trimester III sebagai Persiapan Mengasihi” yang dilaksanakan di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan berlangsung dari tanggal 20 – 21 Juni 2025.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) yang bertujuan Desa Taman Ayu dipilih sebagai lokasi pengabdian karena masih menjadi lokus stunting di Kabupaten Lombok Barat, dengan jumlah kasus yang menurun dari 105 kasus pada tahun 2022 menjadi 34 kasus pada Agustus 2023. Namun, tantangan masih besar, terutama terkait rendahnya pengetahuan ibu hamil tentang manajemen ASI dan budaya lokal yang keliru seperti membuang kolostrum.

Baca Juga:  Semangat Kemerdekaan, PLN dan Eco School Lentera Wujudkan Masyarakat Tangguh dan Mandiri Melalui Pemberdayaan Lansia

“Studi awal kami menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil di trimester ketiga tidak pernah melakukan perawatan payudara, bahkan banyak yang menganggap kolostrum sebagai ASI basi,” ujar Baiq Yuni Fitri Hamidiyanti, selaku ketua tim pengabdi.

Untuk mengatasi masalah ini, tim pengabdi melatih 20 kader posyandu dari delapan dusun di Desa Taman Ayu. Para kader dibekali materi teori dan praktik perawatan payudara, manajemen ASI, pentingnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD), serta edukasi kolostrum.

Baca Juga:  Ujian Sekolah, SDN 1 Gunungsari Antar Soal Kerumah Para Siswa

Kegiatan pelatihan dilakukan secara bertahap selama enam bulan, melibatkan narasumber dari Puskesmas Gerung dan dukungan penuh dari pemerintah desa setempat.

Pelatihan ini diawali dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan kader, diikuti oleh dua sesi pelatihan intensif, lalu dilanjutkan dengan post-test.

Setelah pelatihan, para kader diberikan tugas untuk mendampingi ibu hamil secara langsung, melakukan praktik perawatan payudara, serta memantau keberhasilan IMD dan pemberian ASI setelah persalinan.

“Pendampingan kader diharapkan mampu mengisi kekosongan peran tenaga kesehatan di tingkat desa dan menjadi garda terdepan dalam edukasi ibu hamil terkait ASI,” jelas Ati Sulianty.

Baca Juga:  Pelantikan Bersama: Pengurus SEMA, DEMA, dan UKM UIN Mataram Periode 2025/2026

Selain peningkatan kapasitas kader, kegiatan ini juga menghasilkan luaran berupa jurnal ilmiah, video dokumentasi kegiatan, serta pengajuan HAKI atas video edukasi yang diproduksi.

Keberlanjutan program dijamin melalui pembentukan kelompok kader penyuluh mandiri di desa.

“Program ini bukan sekadar pelatihan satu kali, tetapi menciptakan sistem pendampingan berkelanjutan yang berbasis pada kader lokal. Ini sejalan dengan misi pembangunan kesehatan desa,” tutup Mutiara Rachmawati Suseno.

Dengan keterlibatan lintas sektor — akademisi, pemerintah desa, puskesmas, dan masyarakat — kegiatan ini menjadi contoh sinergi nyata dalam upaya pencegahan stunting yang berbasis bukti dan kearifan lokal. ***

banner 336x280