Peranan Pemuda dalam Masyarakat

Oleh: Muhammad Arifin Ismail, M.A, M.Phil, Ph.D

Religi95 Dilihat

BERBAGI News – Pemuda merupakan generasi penentu suatu bangsa, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Syafii : “ Sesungguhnya di tangan pemuda itu terletak urusan umat dan dalam kemajuan umat itulah  kehidupannya”. Oleh sebab itu, Imam Ghazali berkata bahwa “pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan”.

Dalam kitab suci Al Quran kita dapatkan beberapa kisah yang melibatkan peranan pemuda dalam perjalanan suatu umat. Nabi Ibrahim diutus Allah untuk menyampaikan kebenaran kepada suatu kaum yang sibuk dengan penembahan berhala. Melihat kebiasaan kaumnya tersebut, maka Ibrahim a.s. berusaha untuk merobah kebiasaan syirik kaum tersebut. Perbuatan kaumnya menyembah berhala merupakan perbuatan yang tidak masuk akal, sebab bagaimana tuhan yang dibuat oleh tangan manusia, tidak bergerak dan tidak berkata-kata, tidak memiliki kekuasaan tersebut disembah dan diminta pertolongan.

Sikap tersebut harus dirobah dengan proses ilmu, dengan mengajak masyarakat untuk berpikir atas tindakan yang dilakukan. Oleh sebab itu pada suatu hari Ibrahim datang ke tempat peribadatan kaumnya, dan menghancurkan patung-patung tetapi meninggalkan kapak yang dipakai sebagai alat menghancurkan patung yang lain tersebut di leher patung yang paling besar.

Ibrahim dapat saja menghancurkan patung yang besar tersebut, tetapi tujuan Ibrahim bukan untuk menghancurkan semua patung tetapi untuk mengajarkan kaumnya berpikir tentang patung yang disembah.

 “Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang patung yang terbesar  agar mereka kembali, untuk bertanya kepadanya.  Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang yang zalim”.  Mereka berkata: “Kami dengar seorang pemuda yang bernama Ibrahim“.

Mereka berkata: “Kalau demikian bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”.  Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”  Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.  Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri”,  kemudian kepala mereka jadi tertunduk, lalu berkata: “Sesungguhnya kamu hai Ibrahim telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara”.  Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa’at sedikitpun dan tidak pula memberi mudharat kepada kamu?  Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” ( QS. Al Anbiya 57 – 67).

Baca Juga:  Keistimewaan Hari Jumat

Dalam kisah ini kita dapat melihat bagaimana seorang pemuda Ibrahim berusaha untuk membangun cara berpikir masyarakatnya, dan mengajak mereka dari penyembahan patung yang tidak dapat diterima oleh akal pikiran kepada penyembahan Allah Yang Maha Esa.

Dalam ayat lain, terdapat juga kisah Pemuda Ashabul Kahfi “ Sesungguhnya mereka itu ( pemuda ashabul kahfi ) adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk ( QS. AlKahfi : 13), pemuda yang berani bersikap menola budaya masyarakat yang kafir dan syirik. Pada suatu hari, masyarakat akan merayakan hari kebesaran agama mereka dengan menyembah patung-patung dan memberikan persembahan kepada tuhan-tuhan mereka.

Pada awalnya pemuda tersebut keluar bersama keluarga mereka untuk menghadiri perayan tersebut, sebab penguasa mewajibkan semua rakyatnya untuk mengikuti perayaan tersebut. Para pemuda melihat bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakatnya dengan melakukan penyembahan dan persembahan kepada patung adalah sesuatu yang bertentangan dengan akal sebab tuhan yang layak disembah adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.

Melihat keadaan tersbeut, maka para pemuda tersebut menghindar dari acara perayaan tersebut, dan berteduh di bawah sebuah pohon di luar kawasan penyembahan berhala tersebut.

Pada awalnya seorang pemuda yang keluar dari rombongan masyarakat yang sedang menyembah berhala, tetapi tak lama kemudian, datanglah pemuda lain yang juga tidak menyetujui perbuatan yang sedang dilakukan oleh masyarakatnya, sehingga berkumpullah sekelompok pemuda yang mempunyai pikiran yang sama, tidak menyetujui  budaya jahiliyah yang sedang dilakukan oleh penguasa dan masyarakat mereka pada hari perayaan tersebut. 

Setelah berkumpul, mereka melihat bahwa sikap mereka yang menentang perbuatan dan budaya masyarakat ini akan membahayakan diri mereka. Akhirnya mereka berpikir untuk melarikan diri  dari masyarakat yang jahil dan menghindarkan diri dari tekanan penguasa yang dzalim dengan bersembunyi di sebuah gua. “ Dan ingatlah ketika kamu meninggalkan mereka dan mereka hanya menyembah Allah, maka mereka mencari tempat perlindungan ke sebuah gua, dimana Tuhan mereka akan memberikan rahmatNYa dan menyediakan kemudahan yang berguna bagi urusan mereka “ ( QS. Al Kahfi : 16 ).

Baca Juga:  Beribadah Secara Kaffah

Dalam Sejarah Islam, pemuda merupakan faktor utama dalam membangun masyarakat. Nabi Muhammad pada aktu beliau berumur 18 tahun, terlibat aktif dalam dalam perang Fudul, yaitu suatu peperangan yang memperahankan kota Makkah dari serangan luar. Sayidna Ali bin Abi Thalib pada usia 22 tahun memiliki peran yang sangat pentingdalam peristia Hijrah Rasul dimana beliau mempertaruhkan keselamatan dirinya dengan menjadi pengganti nabi tidur di tempat tidur Nabi, sedangkan algojo kaum Qurasiy mengepung rumah nabi untuk membunuhnya. Usamah bin Zaid pada usia 15 tahun sudah dengan jihad dan ikutterlibat aktif  dalam perang Khandaq, malah beliau diberi amanah untuk  memimpin perang Tabuk di waktu usia 18 tahun.

Al Arqam bin Abil Arqam di usia 16 tahun telah menjadikan rumahnya sebagai tempat pendidikan sahabat di Mekah. Zubair bin Awwam masuk islam di usia 15 tahun dan  pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah sewaktu menjaga rumah Arqam Abi Arqam. Zaid bin Tsabit masuk islam di usia 13 tahun, penulis wahyu dan dalam waktu 15 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasul. Atab bin Usaid dilantik oleh Rasulullah sebagai gubernur Makkah pada umur 18 tahun. Mu’adz bin Amr bin Jamuh 13 tahun dan Mu’awwidz bin ‘Afra 14 tahun embunuh Abu Jahal, pada perang Badar.Thalhah bin Ubaidullah 16 tahun.

Berbaiat untuk mati demi Rasul  pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nabi. Muhammad Al Qasim di usia 17 tahun menjadi penguasa Umayah ( 695-715) yang menaklukkan kawasan Sind dan Hind ( Afghanistan, India, Bangladesh dan Pakistan pada saat ini ).

Abdurrahman An Nashir di usia 23 tahun menjadi penguasa  kerajaan Andalusia mencapai puncak keemasan ( 912-961) dan panglima Turki, Muhammad Al Fatih di usia 21 tahun telah dapat kota menaklukkan Konstantinopel  (1453) yang menjadi kebanggaan kerajaan Rowami pada waktu itu.

Dalam sejarah Islam di Indonesia juga terlihat bagaimana pemuda muslim ikut berperan aktif dalam menentukan perjalanan bangsa. Seluruh ormas Islam yang dibentuk untuk melawan penjajahan Belanda seperti Syarekat Dagang Islam, yang kemudian berubah menjadi Syarekat Islam, ( 1905 ) Persyarikatan Muhammadiyah ( 1912 ), Organisasi Nahdathul Ulama ( 1922 ), Jong Islamic Bond (1925) semuanya dipelopori oleh pemuda, sehingga tercetuslah ikrar Sumpah Pemuda pada Kongres Pemuda tahun 1928 yang menyatakan tekad dan sikap persatuan untuk kemerdekaan dari penjajahan. 

Baca Juga:  Berharap Negeriku diberikan Keberkahan

Pada hari ini, generasi muda islam dihancurkan dengan cara merusak keimanan mereka dan menggantikannya dengan kehidupan yang kosong, penuh dengan khayalan ( narkoba) dan kebebasan syahwat dan hawa nafsu, generasi konsumtif, sibuk dengan kegiatan yang tidak berguna, malahan kadangkala  sehingga tindakan tindakan anarkis , dan perbuatan yang merusak dan negatif.

Al Quran sudah memberikan contoh bahwa generasi muda yang tidak memiliki identitas diri dan disibukkan dengan khayalan dan hawa nafsu merupakan generasi yang akan melawan kebenaran, sebagaimana pemuda kaum Tsamud yang membunuh unta yang diturunkan sebagai mukjizat Nabi Saleh.

Masyarakat Tsamud pada awalnya tidak berani menganggu unta nabi Saleh tersebut, sehingga datanglah dua orang perempuan yang kaya dan cantik menyatakan bahwa siapa yang dapat membunuh unta tersebut maka dia sedia untuk menyerahkan dirinya dan diri anak-anak perempuannya kepada mereka.

Tawaran tersebut disambut oleh sekelompok anak muda yang bersepakat untuk membunuh unta nabi saleh tersebut, sehingga akibat perbuatan itu, kaum Tsamud mendapat azab suara yang keras sehingga suara tersebut merengut nyawa mereka.“ dan mereka mendustakan nabi saleh dan membunuh unta tersebut, sehingga  Allah menurunkan azab atas masyarakat tersebut “ ( QS. As Syams : 14 ).

Mari kita menghayati ucapan dan pesan Sayidna Ali bin Abi Thalib kepada generasi muda: “ Jadilah kamu anak  siapa saja dan carilah adab, sebab kemuliaan adab itu lebih daripada nasab dan keturunan.

Tiadalah cukup perhitungan nasabnya tanpa kebaikan lisan dan adab, sesungguhnya seorang pemuda itu adalah yang berkata : Inilah aku “, dan bukanlah pemuda itu yang berkata : “ Dia adalah ayahku “. Marilah kita mempersiapkan pemuda kita menjadi generasi pemimpin masa depan, generasi yang beriman, memiliki prestasi dan amal bakti yang cemerlang sehingga menjadi generasi penentu peradaban di masa mendatang. Fa’tabiruu Ya Ulil albab. ( Buletin ISTAID, Jumat 30 Oktober 2026)

banner 336x280